Membeli minuman favorit, camilan manis, atau makanan kecil lainnya rasanya seperti hadiah kecil yang pastas di dapatkan setelah melewati hari yang melelahkan.
Jajan menjadi pilihan self reward yang populer karena beberapa alasan. Pertama, mudah diakses. Kita tidak perlu merencanakan jauh-jauh hari atau mengeluarkan banyak tenaga untuk mendapatkannya.
Kedua, harganya relatif terjangkau. Berbeda dengan membeli barang mahal yang perlu pertimbangan panjang, membeli minuman atau camilan seharga dua puluh hingga tiga puluh ribu rupiah terasa seperti pengeluaran kecil yang tidak memberatkan.
Perlu dipahami bahwa memberi hadiah pada diri sendiri bukanlah hal yang buruk. Justru, self reward adalah bentuk self-care yang penting untuk kesehatan mental.
Setelah bekerja keras atau melewati situasi sulit, wajar jika kita ingin memberi apresiasi pada diri sendiri.
Ini adalah cara untuk menghargai usaha yang telah dilakukan dan memberikan motivasi untuk terus maju.
Namun, masalah muncul ketika apa yang awalnya dilakukan sesekali sebagai hadiah bisa berubah menjadi kebiasaan otomatis.
Tanpa disadari, jajan kecil tidak lagi menjadi hadiah untuk pencapaian tertentu, melainkan rutinitas harian yang dilakukan tanpa berpikir panjang.
Ketika seseorang merasa stres, lelah, atau sedih, otak mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik.
Karena jajan terbukti memberikan kepuasan instan, otak akan mendorong kita untuk mengulangi tindakan yang sama setiap kali perasaan negatif muncul. Lama-kelamaan, jajan bukan lagi tentang memberi hadiah, tetapi tentang melarikan diri dari emosi yang tidak nyaman.
Bukan berarti kita harus berhenti memberi hadiah pada diri sendiri. Yang perlu dilakukan adaah menjadi lebih sadar dan lebih bijak dalam memilih bentuk self reward. Cobalah untuk membuat aturan sederhana.
Misalnya, self reward dengan jajan hanya dilakukan setelah menyelesaikan tugas besar atau di akhir pekan, bukan setiap hari. Dengan begitu, hadiah tersebut kembali menjadi istimewa dan tidak kehilangan maknanya.
Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa
Editor : Bahana.