Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengubah Ketakutan Menjadi Kebahagiaan: Transisi dari FOMO ke JOMO di Era Digital

Magang Radar Jogja • Senin, 19 Januari 2026 | 17:15 WIB
ilustrasi FOMO vs JOMO.
ilustrasi FOMO vs JOMO.

RADAR JOGJA - FOMO atau Fear of Missing Out mungkin sudah menjadi istilah yang cukup populer sekarang ini.

Sebuah fenomena dimana kamu sering merasa gelisah atau ketakutan jika tertinggal informasi terbaru atau tidak terlibat dalam keramaian sebuah tren baik dari lingkungan di dunia nyata, maupun di dunia maya.

Tapi tahukah kamu ada satu konsep yang menjadi lawan dari FOMO yang menawarkan cara menikmati hidup dengan lebih tenang tanpa perlu merasa ketakutan saat melewatkan sebuah informasi atau tren yang sedang ramai dibicarakan.

Konsep ini dikenal dengan istilah JOMO atau Joy of Missing Out.

Jebakan FOMO di Era Modern


Secara psikologis, FOMO didefinisikan sebagai kecemasan yang muncul ketika seseorang merasa orang lain sedang menikmati pengalaman berharga tanpa kehadiran mereka.

Meskipun sering dikaitkan dengan anak muda, kerentanan ini sebenarnya dapat dialami oleh berbagai kalangan usia.

Pemicunya bisa berasal dari lingkungan sekitar yang menunjukkan kehidupan sosial orang lain, sehingga memicu rasa tidak puas dan tertinggal akan sesuatu.

Gejala yang paling mudah dikenali adalah obsesi penggunaan media sosial, seperti perilaku scrolling terus menerus demi memantau aktivitas orang lain.

Selain itu, orang yang terjebak FOMO seringkali memiliki ketakutan akan pengucilan sosial, yang mendorong mereka untuk selalu berkata "YA" pada setiap ajakan atau tren, bahkan yang tidak sesuai dengan minat mereka.

Sebuah studi dalam jurnal BMC Psychology bahkan menyoroti bahwa perasaan kesepian dan penghindaran sosial memiliki korelasi kuat dengan tingginya tingkat FOMO, yang berujung pada gangguan kecemasan atau depresi.

Dampak lanjutannya sangat serius, mulai dari stres kronis, menurunnya produktivitas karena sulit fokus, hingga gangguan tidur akibat kebiasaan mengecek gawai di malam hari.

JOMO: Seni Menikmati Ketenangan


Sebagai antitesis dari FOMO, hadirlah JOMO (Joy of Missing Out).

Jika FOMO berfokus pada apa yang dilakukan orang lain, JOMO mengajak kita untuk mengalihkan fokus ke diri sendiri dan apa yang sedang kita rasakan saat ini.

JOMO bukan sekadar ketidaktahuan, melainkan sebuah keputusan yang diambil secara sadar untuk tidak terlibat dalam aktivitas tertentu demi kenyamanan dan kepuasan diri.

Esensi dari JOMO adalah kepuasan diri sendiri akan apa yang disukai dan dimiliki.

Seseorang yang menerapkan JOMO akan merasa cukup dengan hidupnya dan tidak merasa perlu membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.

JOMO juga bisa dikatakan sebagai seni dalam menghargai momen tanpa terdistraksi oleh keinginan untuk mengikuti tren yang sedang ramai dibicarakan.

Dengan kata lain, JOMO membantu seseorang mengendalikan obsesi terhadap pengakuan sosial yang sering kali menuntut pengorbanan berlebih, baik dari segi materi maupun emosi.

Manfaat Psikologis JOMO


Peralihan gaya hidup menuju JOMO terbukti membawa dampak signifikan bagi kesehatan mental.

Salah satu manfaat utamanya adalah penurunan tingkat stres dan kecemasan, karena individu terbebas dari tekanan sosial untuk selalu tampil "up-to-date".

Secara emosional, praktik ini mendorong perasaan yang lebih stabil, tenang, dan bahagia.

Lebih jauh lagi, JOMO juga dapat meningkatkan kualitas pada kesehatan mental dan emosional serta pada kehidupan sosial.

Dengan membatasi paparan media sosial, terutama sebelum tidur, seseorang dapat mengatasi insomnia dan meningkatkan kualitas istirahat mereka.

Dalam aspek produktivitas, berkurangnya gangguan baik dari dunia maya atau dunia nyata memungkinkan seseorang untuk lebih fokus menyelesaikan tugas-tugas penting.

Menariknya, meskipun terkesan "menarik diri", JOMO justru memperkuat hubungan sosial.

Interaksi yang terjadi menjadi lebih bermakna dan mendalam karena dilakukan bersama orang-orang terdekat yang dirasa penting.

Langkah Praktis Menerapkan JOMO


Menerapkan JOMO tidak berarti kamu harus mengisolasi diri sepenuhnya dari dunia luar atau menjadi anti-sosial.

Ini adalah tentang pengaturan prioritas. Berikut adalah langkah-langkah konkret untuk memulainya:

Nikmati Waktu Tanpa Media Sosial: Gunakan waktu untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang kamu sukai yang membuatmu lebih rileks dan bahagia.

Batasi juga penggunaan media sosial dengan menetapkan waktu-waktu khusus.


Berani Berkata "Tidak": Jangan takut untuk menolak ajakan pertemuan atau aktivitas yang tidak sesuai dengan keinginan atau prioritas yang kamu tetapkan.

 

Fokus pada Diri Sendiri dan Orang Terdekat: Temukan aktivitas yang sesuai dengan minat atau hobi kamu dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat yang menurutmu cocok dan suportif sangat penting untuk membuat dirimu merasa bahagia.


Bersyukur: Renungkan hal-hal baik yang kamu alami sehari-hari.

Rasa syukur adalah kunci untuk merasa puas dan bahagia, sehingga dapat mengurangi keinginan membandingkan diri dengan orang lain.

Transisi dari FOMO ke JOMO mungkin memerlukan waktu, namun dengan langkah kecil yang konsisten, kamu dapat mengubah ketakutan akan ketertinggalan menjadi kebahagiaan dalam ketenangan. (Aqbil Faza Maulana)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#jomo #kebahagiaan #Era Digital #fomo #ketakutan