Catcalling adalah bentuk pelecehan verbal yang dilakukan di ruang publik, biasanya oleh orang asing kepada orang lewat.
Bentuknya beragam, mulai dari siulan, komentar tentang penampilan atau tubuh, ajakan yang tidak sopan, hingga ocehan vulgar yang membuat tidak nyaman. Yang lebih menyakitkan, banyak pelaku menganggap catcalling ini sebagai pujian atau sekadar bercanda.
Tidak sedikit orang menganggap ini adalah cara merayu yang wajar atau bentuk apresiasi terhadap kecantikan.
Padahal, catcalling adalah objektifikasi yang merendahkan perempuan menjadi sekadar objek untuk dilihat dan dikomentari.
Ketika seorang lelaki berteriak kepada perempuan yang lewat, ia tidak sedang memberikan pujian.
Ia sedang menunjukkan bahwa ia merasa berhak mengomentari dan mengendalikan ekspresi perempuan tersebut tanpa persetujuan.
Salah satu bentuk catcalling paling umum adalah panggilan “eh cantik”, “cewek”, atau “mbak-mbak” yang disertai siulan atau komentar lanjutan.
Pelaku sering merasa ini adalah cara yang sah untuk menarik perhatian perempuan. Padahal, perempuan yang berjalan sendirian bukan sedang mencari perhatian atau ingin diajak kenalan oleh orang asing di jalan.
Komentar atau ocehan yang dilontarkan menciptakan situasi yang tidak adil. Perempuan dipaksa untuk merespons atau mengabaikan panggilan tersebut, dan apapun yang dipilih bisa berakibat negatif. Jika mengabaikan, bisa dianggap sombong dan mendapat cacian.
Jika merespons, bisa dianggap memberi kesempatan dan catcalling berlanjut atau bahkan menjadi lebih agresif.
Dampak yang Diremehkan
Catcalling bukan masalah sepele yang bisa diabaikan banyak perempuan mengubah cara berpakaian, menghindari jalan tertentu, atau bahkan mengatur ulang jadwal aktivitas hanya untuk meminimalkan kemungkinan di catcalling.
Kecemasan menjadi hal yang lumrah. Setiap mendengar motor melambat atau ada kelompok lelaki di pinggir jalan, degup jantung otomatis meningkat.
Perempuan harus terus berfikir aman atau tidak melewati jalan itu, aman atau tidak keluar jam segini, aman atau tidak pakai baju ini. Mental ini sangat melelahkan dan tidak seharusnya menjadi beban yang harus ditanggung.
Tips Menghadapi Catcalling
Perempuan perlu tahu cara menghadapi situasi ini. Strategi paling aman adalah mengabaikan dan terus berjalan.
Jangan merasa berkewajiban untuk merespons, tersenyum, atau berterima kasih. Tidak memberi respons sering kali membuat pelaku bosan dan berhenti.
Jika memungkinkan, gunakan earphone saat berjalan. Ini memberikan alasan jelas untuk tidak mendengar dan merespons. Berjalan dengan percaya diri dan hindari kontak mata.
Untuk rute yang sering dilalui, kenali tempat-tempat aman yang bisa didatangi jika merasa terancam misalnya toko, pos keamanan, atau tempat ramai. Jangan ragu masuk ke tempat umum jika merasa diikuti. Simpan nomor darurat di ponsel yang mudah di hubungi.
Sering kali ketika membahas catcalling, solusi yang ditawarkan adalah perempuan harus lebih berhati-hati, jangan keluar malam, jangan pakai baju tertentu, jangan jalan sendirian.
Perempuan berhak berjalan dengan aman di ruang publik tanpa harus khawatir dilecehkan. Solusi sejatinya bukan membatasi kebebasan perempuan, tetapi mengedukasi dan memberikan konsekuensi kepada pelaku.
Sebagai masyarakat, kita perlu berhenti menormalisasi catcalling. Jika melihat teman melakukan catcalling, tegur.
Jika melihat seseorang diganggu di jalan, tawarkan bantuan dengan cara yang aman. Perubahan dimulai dari kesadaran kolektif bahwa tidak ada yang lucu dari membuat orang lain merasa terancam.
Catcalling bukan pujian, rayuan, maupun lelucon. Ini adalh beentuk pelecehan yang perlu dihentikan. Perempuan tidak butuh validasi dari orang asing di jalan, melainkan rasa aman untuk menjalani hari tanpa gangguan.
Penulis: Adzkia Fahdila Khairunisa
Editor : Bahana.