RADAR JOGJA - Seseorang membuang sampah sembarangan, padahal dirinya tahu jika hal tersebut merupakan perbuatan yang dapat merusak lingkungan.
Selain itu, dirinya kerap menyuarakan berbagai isu krisis iklim, tetapi ia masih menggunakan pendingin ruangan saat tidak terlalu dibutuhkan.
Secara sadar, dirinya tahu bahwa perilaku tersebut merupakan suatu kesalahan. Namun, dalam waktu yang bersamaan, orang tersebut tetap melakukan hal-hal yang bertentangan.
Perilaku tersebut seperti halnya seseorang yang merokok dan menyadari bahaya rokok yang dapat berdampak buruk bagi kesehatannya secara bersamaan.
Kedua perilaku di atas merupakan wujud dari suatu perasaan yang disebut sebagai disonansi kognitif atau keadaan di mana individu merasakan pertentangan antara dua keyakinan, sikap, atau nilai.
Disonansi kognitif menyebabkan seseorang mengalami ketegangan mental dari dua keyakinan, sikap, atau nilai tersebut.
Seringkali, disonansi kognitif menyebabkan rasa tidak nyaman bagi individu yang mengalaminya.
Meskipun demikian, tidak jarang juga individu bersikap tenang dan meneruskan suatu perilaku yang bertentangan dengan keyakinan, sikap, atau nilai lainnya yang dimiliki.
Hal tersebut sangat mungkin terjadi dikarenakan berbagai faktor, seperti kebiasaan yang sudah lama terbentuk, candu, kebutuhan, atau tradisi suatu budaya.
Leon Festinger, psikolog asal Amerika Serikat (AS) meneliti fenomena disonansi kognitif. Festinger kemudian mencetuskan fenomena tersebut menjadi sebuah teori, yakni Teori Disonansi Kognitif.
Teori tersebut pertama kali dikemukakan pada tahun 1957 melalui karyanya yang berjudul “A Theory of Cognitive Dissonance”.
Karyanya tersebut berkontribusi dalam berbagai kajian ilmu pengetahuan, terutama pada bidang psikologi, sosiologi, neurologi, dan komunikasi.
Prastyo dan kawan-kawan (dkk.) dalam suatu penelitian mengenai disonansi kognitif yang dialami pekerja seks komersial (PSK) yang terpaksa bekerja untuk menghidupi keluarga menjelaskan berbagai faktor disonansi kognitif yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Faktor Keluarga
Keluarga menjadi salah satu sumber terkuat terjadinya disonansi kognitif. Di satu sisi, terdapat ketakutan akan rasa bersalah jika anak mengetahui pekerjaan ayah atau ibunya yang sesungguhnya.
Namun di sisi lain, orang tua tetap harus bekerja untuk memenuhi kehidupan keluarga, khususnya anak. Hal tersebut bisa jadi dikarenakan tidak adanya pekerjaan lain yang mampu untuk dilakukan.
2. Tekanan Sosial dan Stigma Masyarakat
Disonansi kognitif kerap terjadi karena adanya tekanan sosial dan stigma masyarakat. Sebagaimana seorang PSK terpaksa harus menjalankan pekerjaannya, namun dalam waktu yang bersamaan dirinya khawatir akan tekanan sosial dan stigma dari orang-orang di sekitarnya.
3. Nilai Moral dan Agama
Salah satu faktor disonansi kognitif yang sering terjadi adalah nilai moral dan agama. Secara sadar, seorang PSK tersebut tahu apa yang dilakukan merupakan perbuatan yang salah secara moral dan agama. Di sisi lain, ia juga menyadari bahwa dirinya tetap harus bekerja karena tuntutan ekonomi.
4. Kepentingan Masalah
Berbagai kepentingan masalah juga menjadi salah satu faktor seseorang untuk melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan keyakinan lainnya.
Dalam hal ini, masa depan anak dan kebutuhan keluarga lebih penting dibandingkan memenuhi nilai moral agama dan sosial meskipun seseorang tahu bahwa kedua hal tersebut bertentangan dan dapat menyebabkan dosa atau dianggap kehilangan kehormatannya di mata masyarakat.
5. Rasionalisasi
Sekali lagi, seseorang sadar bahwa suatu perbuatan yang dilakukan bertentangan dengan keyakinan lainnya. Meskipun demikian, ia tetap melakukan hal tersebut dikarenakan terdapat suatu rasionalisasi.
Sebagai contoh, seorang PSK merasa bahwa dirinya terpaksa karena keadaan ekonomi, merasa bahwa banyak orang melakukan hal yang sama, merasa terlanjur, atau rasa aman jika dampak dari pekerjaan tersebut bisa diatasi. Hal tersebut yang kemudian menjadi pembenaran untuk tetap meneruskan pekerjaannya.
Perlu diketahui bahwa disonansi kognitif merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap orang.
Selain itu, berbagai hal yang dapat dilakukan agar disonansi kognitif tidak menghambat kehidupan sehari-hari seperti menguatkan keimanan, memperbanyak membaca buku, bersikap tegas dalam menentukan pendirian atau keputusan, serta menyelaraskan kembali niat dalam meraih cita-cita atau suatu tujuan.
Penulis: Salwa Hunafa
Editor : Bahana.