Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejarah Panjang Halloween: Dari Festival Kuno Hingga Tradisi Modern di Indonesia

Magang Radar Jogja • Sabtu, 1 November 2025 | 21:41 WIB
Dekorasi haloween.
Dekorasi haloween.

RADAR JOGJA - Setiap tanggal 31 Oktober, masyarakat di berbagai belahan dunia merayakan Halloween dengan beragam cara.

Mulai dari mengenakan kostum menyeramkan, mengukir labu Jack O’ Lantern, hingga dekorasi serba seram.

Namun, di balik perayaan yang kini identik dengan hiburan dan pesta kostum itu, Halloween ternyata memiliki sejarah panjang yang berakar ribuan tahun lalu.

Perayaan Halloween berawal dari Festival Samhain, tradisi kuno suku Celtic di Inggris dan Irlandia yang menandai berakhirnya musim panen dan awal musim dingin pada 1 November.

Kala itu, masyarakat percaya bahwa di malam menjelang pergantian tahun, roh orang yang telah meninggal akan kembali ke dunia manusia.

Untuk menyambut sekaligus menghindari gangguan roh jahat, mereka menyalakan api unggun dan memakai topeng agar tak dikenali oleh arwah gentayangan.

Ketika bangsa Romawi menaklukkan wilayah Celtic, unsur keagamaan mereka ikut berpadu. Bangsa Romawi memiliki tradisi Feralia, hari untuk mengenang orang mati.

Pada abad ke-7, Paus Bonifasius IV kemudian memindahkan perayaan All Saints’ Day atau All Hallows Day ke tanggal 1 November, agar bertepatan dengan Samhain.

Malam sebelumnya pun disebut All Hallows Eve, yang lambat laun berubah sebutannya menjadi Halloween.

Perayaan ini akhirnya dilakukan pada malam 31 Oktober, karena dianggap sebagai waktu peralihan antara dunia manusia dan arwah, saat roh orang yang telah meninggal diyakini dapat kembali ke bumi, sesuai kepercayaan suku Celtic.

Dari sinilah, berbagai tradisi Halloween modern mulai lahir.

Pada Abad Pertengahan, masyarakat Eropa berkeliling meminta “soul cakes” atau kue arwah sambil mendoakan orang yang telah meninggal tradisi yang kemudian berkembang menjadi Trick or Treat.

Dalam perayaan ini, anak-anak berdandan menyeramkan atau lucu dan berkeliling ke rumah tetangga sambil berseru “trick or treat!”, yang berarti beri kami permen atau kami akan mengerjaimu.

Simbol Jack O’ Lantern juga muncul dari kebiasaan masyarakat Irlandia mengukir lobak, yang kemudian diganti menjadi labu saat tradisi menyebar ke Amerika.

Di Indonesia sendiri, Halloween bukanlah tradisi lokal ataupun perayaan keagamaan.

Meski begitu, pengaruh budaya global membuat Halloween tetap digemari, terutama di kalangan anak muda.

Perayaan ini lebih dimaknai sebagai ajang ekspresi diri dan kreativitas, lewat acara kostum, dekorasi tematik, hingga pesta bertema menyeramkan yang diadakan di berbagai tempat. (Silvia Oktaviani)



Editor : Meitika Candra Lantiva
#festival kuno #halloween #tradisi #perayaan