Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pesan Lebih Cepat Tersampaikan, Media Sosial Jadi Corong Masyarakat untuk Sebarkan Aspirasi

Yusuf Bastiar • Sabtu, 13 September 2025 | 12:05 WIB
Kehadiran demonstran di UGM tak luput dari peran media sosial yang awalnya penyelenggaraan aksi demo bakal digelar di wilayah Malioboro.
Kehadiran demonstran di UGM tak luput dari peran media sosial yang awalnya penyelenggaraan aksi demo bakal digelar di wilayah Malioboro.

RADAR JOGJA - Media sosial disebut berperan sebagai corong untuk menyuarakan aspirasi masyarakat. Lewat tulisan-tulisan kritis, pesan tersebut bisa sampai ke berbagai daerah dengan cepat.

Tak hanya itu, pergerakan massa di berbagai daerah khususnya Jogjakarta turut didalangi masifnya penggunaan media sosial. Sebab masyarakat bisa dengan mudah memantau kondisi politik maupun aksi demonstrasi yang sedang terjadi.

"Saya lebih sering memantau di Instagram karena banyak menampilkan berita atas kejadian yang dilakukan di beberapa wilayah," jelas mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yose Ziganda Jumat (12/9).

Namun, dia turut menyayangkan banyaknya informasi yang tersebar disalahgunakan. Membuat adanya kelompok yang ikut memprovikasi saat adanya aksi demostrasi. "Beberapa tuntutan maupun aspirasi sangat bagus disampaikan, namun oknum-oknum itu malah berpotensi buruk di jalannya aksi demo," paparnya.

Mahasiswa Fisipol UNY Syandana Reyhan Yumna Pratista menilai, demonstrasi saat ini menjadi bentuk kepedulian sekaligus tanggung jawab moral mahasiswa. Awalnya, aksi dimulai dari diskusi lewat media sosial. “Tapi ketika kondisi tidak baik-baik saja, demonstrasi di jalan adalah keharusan,” ujarnya.

Syandana menyoroti beberapa regulasi yang dinilai kontroversial, seperti Undang-Undang TNI dan KUHP baru, yang menurutnya tidak berpihak pada rakyat. Selain soal regulasi, mahasiswa juga menilai pejabat publik gagal menunjukkan sikap solutif. Beberapa di antaranya memilih ke luar negeri saat gelombang aksi besar terjadi, sementara sebagian lain melontarkan pernyataan kontroversial yang justru memicu kemarahan masyarakat.
 
“Undang-undang itu justru menguntungkan segelintir golongan, partai, dan penguasa. Rakyat yang terbebani,” katanya.
Baca Juga: Korban Banjir Bali Terus Bertambah, BNPB Catat Informasi Terbaru Berjumlah 16 Jiwa, Pencarian Terus Dilakukan
 
Peristiwa meninggalnya Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang terlindas kendaraan taktis saat aksi di Jakarta, disebut Syandana semakin mempertegas pentingnya ruang demokrasi. “Itu bukti bahwa situasi sudah darurat. Aksi damai malah diwarnai kekerasan. Kami marah, tapi tetap menyuarakan aspirasi dengan cara yang sah,” tegasnya.
 
Dalam aksi Jogja Memanggil di Bundaran UGM, Syandana menekankan bahwa massa bergerak damai tanpa gesekan. Ia menyimpulkan ada dua hal mendasar yang harus dilakukan pemerintah, mendengar aspirasi rakyat dan menghadirkan solusi nyata, bukan lari dari tanggung jawab. “Demonstrasi adalah hak konstitusional. Ini bukan sekadar pilihan, tapi kewajiban bagi kami sebagai mahasiswa dan bagian dari rakyat,” katanya.(mg6/oso/bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#aksi demo #demonstrasi #menyuarakan #UNY #media sosial #jogja memanggil #aspirasi masyarakat #Tuntutan #Aksi demonstrasi #Universitas Sanata Dharma #aspirasi #kejadian