Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Layang-Layang Tak Lagi Berbahan Bambu dan Kertas, Efektif Kenalkan Budaya ke Luar Negeri

Guntur Aga Tirtana • Sabtu, 6 September 2025 | 13:00 WIB

TETAP TERBANG: Layangan dengan bentuk naga maupun tokoh berukuran raksasa sering dibuat oleh pehobi.
TETAP TERBANG: Layangan dengan bentuk naga maupun tokoh berukuran raksasa sering dibuat oleh pehobi.
 

RADAR JOGJA - Tren dunia layang-layang kini terus mengalami perkembangan pesat. Bentuknya tak selalu geometris sederhana seperti diamond (wajik) atau segi empat dengan dua pasang sisi berdekatan sama panjang. Desain layangan kini semakin menarik dan inovatif.

Pegiat layang-layang dari Komunitas Talikama Adieb Hazmi menjelaskan, layang-layang sendiri memiliki beberapa jenis. Seperti layangan aduan, layangan hias, layangan tradisional, dan layangan modern. 

Jika dulu layang-layang banyak memakai kertas atau daun, kini beralih ke kain waterproof dan ripstop. "Jadi dengan perkembangan zaman ini tentunya akan membuat orang berinovasi. Tapi kalau prinsip seorang pelayang itu, apa pun bentuknya harus bisa terbang," ujarnya kepada Radar Jogja Jumat (29/8).

Bagi Adieb, banyaknya inovasi layangan itu tentu menjadi hal yang sangat positif. Sebab meski Indonesia memiliki layangan tradisional yang terbuat dari bambu, hal itu dirasa tidak efektif untuk dibawa ke mana-mana. Sehingga orang-orang Indonesia sendiri susah mengenalkan budaya layang-layang itu ke luar negeri. 

 Baca Juga: Ungkapkan Rasa Duka, Universitas Amikom Jogjakarta Gelar Aksi 1.000 Lilin untuk Almarhum Rheza Sendy Pratama

"Kalau layangan dari kertas dan bambu itu sekali pakai hancur kena hujan. Maka itulah pentingnya perubahan," tegasnya. 

Sebenarnya, lanjut Adieb, inovasi bentuk layang-layang sudah terjadi sejak 1980-an. Pada saat ini para pelayang dari Indonesia sudah berinovasi membuat layangan dengan memakai bahan karbon dan kain ripstop

 Baca Juga: Wagub Jateng Lepas Penerbangan Perdana Semarang-Kuala Lumpur, Masyarakat Sambut Antusias

Namun harga bahan saat itu terbilang mahal. Banyak perajin yang masih memilih membuat layang-layang tradisional. Berbahan dasar bambu, kertas, dan plastik. 

Menurut Adieb, perkembangan inovasi layang-layang di Indonesia itu mulai masif digencarkan saat pandemi Covid-19. Adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), membuat perajin berinovasi dengan layang-layang beraneka ragam bentuknya.  "Dari situ muncul bentuk naga, naga mini, naga besar, naga macam-macam lah, sampai tradisional yang modern, dan tradisional tapi modern," bebernya. 

 

Sebagai seorang pelayang, Adieb mengaku sangat mengapresiasi para perajin tersebut karena telah membuat aneka ragam bentuk layangan. Sebab selain bisa menarik perhatian anak-anak, bergam bentuk baru yang tercipta juga berfungsi untuk memperkenalkan budaya layang-layang Indonesia ke luar negeri. 

 

"Ternyata layang-layang tradisional Indonesia ini lebih bagus dibanding dengan Cina. Buktinya saya bisa mendapatkan medali emas di luar negeri," lontarnya. (ayu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tren #layang-layang #bambu #Budaya #desain #Komunitas Talikama #layangan