Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja Fashion Week 2025 Digelar: Batik Tak Lagi Sekadar Budaya, Kini Jadi Tren Fashion Kekinian

Cintia Yuliani • Jumat, 8 Agustus 2025 | 00:05 WIB

Gelaran Jogja Fashion Week 2025
Gelaran Jogja Fashion Week 2025
BANTUL – Desainer Afif Syakur kembali tampil memukau dalam Jogja Fashion Week (JFW) 2025 dengan menampilkan busana pria berbahan batik yang dipadupadankan secara kekinian.

Menurut perancang peraih penghargaan Lifetime Achievement Industri Fashion Jogja 2025 itu, batik bukan lagi simbol masa lalu, melainkan ikon masa depan yang mampu mengikuti perkembangan tren global.

“Kalau melihat batik itu bukan sebagai batik masa lalu, tapi kita melihat batik masa kini dan masa depan," ujar Afif usai pembukaan acara JFW Rabu (6/8).

Menurutnya batik bisa mengikuti perkembangan zaman, dengan cara penyederhanaan motif dan menyesuaikan warna yang mengikuti tren.

Batik bukan hanya budaya, tetapi sekarang batik juga termasuk produk fashion yang bisa dipakai kapan saja dan di mana saja.

Afif menegaskan bahwa batik kini telah menjadi milik nasional bahkan global.

Menurutnya, pendokumentasian batik telah meluas ke berbagai daerah, mulai dari Kalimantan hingga Sulawesi. Ia juga menilai batik unggul dalam fleksibilitas produksi maupun ekspor.

Dalam ajang JFW ke-20 ini, Afif juga menyoroti pentingnya praktik sustainable fashion. Menurutnya, produk fashion tak selalu harus baru.

Justru tantangannya terletak pada bagaimana desainer mampu mengolah kembali pakaian lama menjadi sesuatu yang segar.

"Dulu kalau baju sudah dipakai ya selesai, sekarang bisa diolah lagi jadi model baru. Ibarat pisang goreng, bisa dihangatkan lagi," tuturnya.

Afif menjelaskan, batik memiliki fleksibilitas tinggi dalam dunia mode. Menurutnya, batik tidak melulu harus tampil dalam bentuk baru.

Justru, kain batik bisa dipadupadankan dengan pakaian lama dan diolah kembali menjadi kreasi yang segar serta relevan dengan tren masa kini.

Bagi Afif, pendekatan seperti ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menjadikan warisan budaya sebagai inspirasi untuk menciptakan tren baru dalam industri fashion.

Ia juga menyebut pentingnya pola zero waste dalam desain, agar tidak ada bahan terbuang percuma.

lanjutnya ia mengaku bangga karena Jogja Fashion Week berhasil terus berjalan selama dua dekade dan bahkan kini menjadi pekan mode tertua di Indonesia yang masih konsisten digelar.

Ia menyebut perjalanan JFW berawal dari harapan menjadikan Jogja sejajar dengan Bali dalam geliat industri fashion.

“Dulu kita bercermin ke Bali Fashion Week, lalu pemerintah mendukung agar Jogja punya ajang sendiri. Ternyata JFW yang justru bertahan paling lama,” ujarnya.

Yang paling membanggakan, menurut Afif, adalah tingginya partisipasi desainer muda di setiap penyelenggaraan JFW.

Hal itu menjadi penanda bahwa Jogja merupakan ladang subur bagi generasi kreatif.

“Jogja ini adalah akar rumpun dari generasi muda yang berkarya. Karena UKM di Jogja selalu tanggap dan berkembang,” katanya.

Ia juga menyebutkan, selain sebagai kota budaya, Jogja kini berkembang menjadi pusat fashion etnik Indonesia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DiY Yuni Pancawati mengatakan Jogja fashion week 2025 ini, melibatkan 160 desainer dan 12 Youth fashion designer, yang akan terbagi dalam 10 sesi.

"Karya-karya desainer ini mengangkat kekayaan budaya lokal dan menjadi dasar kolaborasi kreatif yang mendorong industri model busana," tuturnya.

Editor : Bahana.
#Jogja Fashion Week #Batik