RADAR JOGJA - Gerakan bersepeda pada Jumat terakhir di tiap bulan atau yang lebih dikenal sebagai Jogja Last Friday Ride (JLFR) mendapatkan apresiasi. Sebab kegiatan tersebut dapat menegaskan Jogjakarta sebagai kota sepeda.
Restu Arivianto, pemuda asal Kabupaten Sleman ini merupakan salah satu orang yang cukup rutin mengikuti JLFR. Jika tidak ada kesibukan, dia sering memanfaatkan waktu luangnya untuk menuju Stadion Kridosono. Tempat berkumpulnya para pesepeda JLFR.
Restu mengaku, lewat gerakan JLFR bisa semakin menegaskan Jogjakarta sebagai Kota Sepeda. Sebab diakuinya, predikat tersebut mulai luntur seiring dengan masifnya penggunaan kendaraan bermotor dan hilangnya fasilitas penunjang bagi pesepeda di Jogjakarta.
“Lewat JLFR, predikat kota sepeda seperti masih bisa dipertahankan,” ujar Restu kepada Radar Jogja lewat sambungan telepon Jumat (25/7).
Pria 31 tahun ini berharap, JLFR bisa terus didukung pelaksanaannya. Pun gerakan tersebut selama ini juga banyak diikuti oleh masyarakat. Sebab menjadi wadah bagi masyarakat yang ingin bersenang-senang dengan sepedanya.
Kemudian di sisi lain, kegiatan bersepeda juga banyak memiliki manfaat untuk kesehatan. Oleh karena itu, Restu berharap agar JLFR bisa terus terlaksana.
“Saya sangat mendukung kegiatan tersebut rutin diselenggarakan,” katanya.
Selain itu, keberadaan JLFR sudah seperti hari perayaan bagi pesepeda di Jogjakarta. Sebab siapa pun boleh mengikutinya. Termasuk dengan berbagai bentuk sepeda yang dimiliki peserta. Tak ada aturan soal batasan jenis.
Baik itu sepeda gunung, fixie, sepeda lipat, hingga sepeda yang berbentuk unik. “Bisa ikut dalam kegiatan JLFR,” sebut Vidi Yosef, peserta JLFR.
Vidi ingin, JLFR bisa terus bertahan dan dapat menjadi ciri khas bagi Jogjakarta. Sebab lewat gerakan tersebut, para pesepeda bisa melupakan hasratnya untuk bersenang-senang dengan hobinya.
“JLFR adalah wadah yang harus digelorakan,” tuturnya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita