RADAR JOGJA — Di tengah mahalnya biaya hidup di kota-kota besar, seorang programmer muda asal Shanghai membuat pilihan hidup yang tak biasa namun inspiratif.
Pemuda itu bernama Zhang Yunlai.
Berasal dari Yangjiang, Provinsi Guangdong, dan pindah ke Shenzhen untuk bekerja enam tahun lalu.
Anehnya, dia tak tinggal di dalam bangunan gedung atau rumah, melainkan tinggal di dalam mobil pribadinya.
Kehidupan ini ia lakoni hampir lima tahun lamanya.
Keputusan ini diambil demi menghemat pengeluaran sekaligus menjaga jarak dekat dengan tempat kerjanya.
Ia megungkapkan, biaya sewa apartemen cenderung mahal, menyerap lebih dari 60% pendapatannya.
Kemudian dia memilih alternatif ekstrem, namun efektif.
Mobil yang diparkir di dekat jaraknya dengan kantor kini menjadi tempat tinggal sehari-hari.
Untuk kebutuhan mandi dan kebugaran, ia berlangganan pusat kebugaran 24 jam. Sinyal Wi-Fi kantor digunakan untuk bekerja malam hari.
“Saya hanya butuh tempat tidur, sinyal Wi-Fi, dan tempat mandi,” tulisnya dalam unggahan yang viral di platform Xiaohongshu.
Programmer berusia 28 tahun ini hanya membawa barang esensial, beberapa set pakaian kerja, peralatan makan portabel, dan baterai cadangan.
Ia mengaku, hidup di ruang sempit justru membuatnya lebih bijak dalam mengelola keuangan dan memprioritaskan kebutuhan.
Respons publik pun beragam. Sebagian mengapresiasi kesederhanaannya sebagai bentuk keberanian dan efisiensi finansial.
Namun ada pula yang mempertanyakan kenyamanan dan kesehatan dalam jangka panjang.
Meski demikian, gaya hidupnya memicu diskusi di kalangan muda urban di Tiongkok.
Banyak yang mulai mempertimbangkan gaya hidup minimalis, terutama terkait beban sewa dan konsumsi berlebih.
Meski tinggal di mobil, ia tetap menjaga keseimbangan hidup. Setiap hari ia rutin berolahraga dan memasak bekal sendiri.
Targetnya pun jelas. Dalam lima tahun, ia ingin membeli rumah tanpa berutang.
Kisah ini menjadi refleksi bahwa pilihan hidup sederhana bisa menjadi strategi cerdas di tengah tekanan ekonomi kota besar.
Bukan hanya soal penghematan, tapi juga tentang menemukan kebebasan dan kendali atas hidup sendiri. (Tri Advent Sipangkar)
Editor : Meitika Candra Lantiva