RADAR JOGJA - Di tengah geliat tren gaya hidup sehat, pilates mulai mencuri perhatian masyarakat urban. Olahraga berintensitas rendah namun kaya manfaat ini kini tak hanya diminati oleh generasi muda, tapi juga menjangkau kalangan yang lebih dewasa.
Salah satu yang aktif memopulerkan pilates di Kota Magelang adalah Wiendriasih Prasiani Nugrahaningtyas, instruktur di One Time Pilates Kota Magelang. Tyas, sapaan akrabnya, mulai mengajar pilates sejak Februari 2025, setelah sebelumnya menjadi instruktur yoga.
Peralihan itu bukan tanpa alasan. Dia melihat, pilates, meski tergolong olahraga low impact, ternyata memiliki manfaat besar untuk kekuatan, fleksibilitas, dan ketahanan otot. Terutama di bagian inti tubuh seperti perut, punggung, dan panggul.
Meski tidak terlalu berkeringat seperti aerobik atau zumba, pilates membantu memperbaiki postur dan meningkatkan kesadaran tubuh. “Fokusnya adalah kontrol, bukan kecepatan," bebernya Jumat (4/7).
Pilates memiliki berbagai jenis latihan, dari Mat Pilates yang menggunakan matras hingga Reformer, Cadillac, dan Chair Pilates yang menggunakan alat bantu. Meski terdengar kompleks, Tyas menegaskan semua jenis bisa diakses oleh pemula. Menyesuaikan kenyamanan masing-masing.
"Kalau Mat Pilates lebih ke berat badan sendiri, sedangkan Reformer Pilates menggunakan alat bantu, jadi lebih stabil dan terarah. Keduanya efektif, tinggal pilih yang paling cocok," paparnya.
Untuk hasil yang maksimal, dia menganjurkan latihan dilakukan dua hingga tiga kali dalam seminggu. Menurutnya, terlalu jarang berlatih akan membuat tubuh harus kembali beradaptasi dari awal.
Dalam setiap sesi latihan, Tyas menekankan pentingnya tulang belakang dalam posisi netral. Dia terus mengingatkan peserta untuk menjaga garis lurus dari kepala hingga tulang duduk. Gerakan dilakukan secara perlahan dan terkontrol, agar peserta benar-benar sadar akan posisi tubuhnya.
"Biasanya setelah tiga sampai empay kali latihan, postur mulai terlihat berubah. Mereka mulai terbiasa tegak secara alami," katanya.
Tak hanya orang dewasa, Tyas juga pernah melatih peserta usia 60 tahun. Namun secara umum, peserta yang datang rata-rata berusia 20–30 tahunan atau generasi muda yang mulai sadar pentingnya merawat tubuh sejak dini.
Tyas pun membagikan kisah menarik tentang seorang ibu usia 50-an yang sebelumnya kerap mengeluh nyeri punggung akibat angkat beban. Setelah rutin ikut pilates, keluhannya membaik tanpa perlu obat atau pijat.
"Sekarang ibu itu malah jadi rutin ikut pilates. Badannya lebih ringan dan segar. Itu yang bikin saya yakin pilates bisa membantu siapa pun," ujar Tyas.
Meski begitu, ada satu tantangan yang kerap dihadapi pemula. Mereka cenderung tidak percaya diri. Banyak yang merasa tubuhnya kaku, kurang lentur, atau belum pernah berolahraga sebelumnya. Di sinilah peran instruktur menjadi penting.
"Tubuh lentur itu bisa dilatih. Tapi yang terpenting adalah membangun kepercayaan diri," ungkapnya.
Bagi Tyas, pilates bukan sekadar tren. Melainkan bagian dari perawatan tubuh dan pikiran. Dia berharap, masyarakat semakin terbuka dengan olahraga ini, karena manfaatnya mencakup banyak aspek. Dari memperbaiki postur, mengurangi nyeri sendi, hingga meningkatkan kesadaran mental.
"Semoga makin banyak orang sadar bahwa menjaga tubuh bukan cuma soal fisik. Tapi juga tentang keseimbangan batin," pungkasnya.
Terlebih, pilates mungkin tampak lembut di permukaan. Namun di balik gerakannya yang tenang, tersembunyi kekuatan besar untuk membentuk tubuh, menguatkan otot, dan merawat pikiran. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita