JOGJA - Kebaya janggan yang dahulu identik dengan nilai-nilai kearifan lokal kini banyak dikenakan untuk berbagai keperluan kekinian. Mulai dari sesi prewedding, foto wisuda, hingga sekadar konten di media sosial.
Pengamat fashion sekaligus Dosen D4 Tata Busana Fakultas Vokasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Kusminarko Warno menganggap, fenomena ini sebagai bentuk pelestarian budaya yang dilakukan secara organik oleh generasi muda.
"Secara tidak langsung mereka sedang mempromosikan dan menjaga keberlangsungan budaya lokal," katanya pada Radar Jogja Jumat (20/6).
Namun di balik estetikanya yang menawan, Kusminarko menyebut, kebaya janggan memiliki akar sejarah kuat dan filosofi mendalam. Kebaya janggan diyakini berasal dari masa perang Diponegoro.
Busana ini konon dikenakan oleh istri-istri para pejuang, termasuk istri Pangeran Diponegoro. Kebaya ini memiliki fungsi taktis, yakni untuk menyembunyikan keris di balik pakaiannya.
"Bentuknya menyerupai surjan, pakaian pria, dengan warna dominan hitam. Ini bukan kebaya biasa, awalnya digunakan sebagai pakaian perang," bebernya.
Sementara, untuk nama janggan sendiri berasal dari kata jangga yang berarti leher. Leher yang tegak diartikan sebagai simbol kewibawaan, ketegasan, dan keberanian.
"Oleh karena itu, kebaya janggan punya kerah tinggi, yang membawa pesan keberanian perempuan Jawa yang teguh dan mandiri," tuturnya.
Baca Juga: BNN Sleman Komitmen Kuatkan Pencegahan, Rehabilitasi, dan Pemberantasan Narkoba
Secara prinsip, meski mendukung tren modernisasi dan kreativitas dalam berbusana, Kusminarko tetap mengingatkan agar penggunaan kebaya tradisional dilakukan secara arif dan penuh pemahaman. Dia menyarankan, pengguna idealnya perlu melakukan riset terlebih dahulu. Khususnya saat melakukan modifikasi atau padu padan dengan busana modern saat ini.
"Kategori kebaya itu banyak, dan masing-masing punya marwah serta pakemnya. Tidak semuanya bisa dipadupadankan bebas," pesannya.
Menurutnya, di tengah derasnya arus inovasi fashion, penting bagi masyarakat, untuk tetap menghormati nilai-nilai kultural yang melekat pada busana tradisional tersebut.
"Sah-sah saja mengombinasikan dengan elemen modern. Tapi lebih baik baca asalnya, sejarah, makna, dan momen yang tepat memakainya. Dengan begitu, kita tidak hanya tampil estetik, tapi juga sadar budaya," katanya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita