RADAR JOGJA - Berolahraga menggunakan pakaian tertutup atau syar'i bagi para perempuan muslim, belakangan kian masif dilakukan. Komunitas yang mewadahinya pun kian banyak. Mulai dari komunitas basket, gym, hingga pound fit.
Merespons fenomena tersebut, dosen Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Dr Rezha Arzhan Hidayat menyampaikan, olahraga menggunakan pakaian tertutup atau syar'i sejatinya tidak terlalu jadi persoalan.
Namun idealnya, berolahraga menggunakan pakaian syar'i harus memperhatikan bahan dari pakaian. Beberapa aspek krusial mulai dari elastisitas bahan, panas atau tidaknya kain, hingga fleksibilitas yang bisa dicapai dari pakaian.
"Untungnya sekarang banyak produsen yang sudah mengeluarkan muslim sportswear," katanya pada Radar Jogja, Jumat (17/1/2025).
Model pakaian cenderung lebih longgar dan tidak memunculkan bentuk tubuh penggunanya. "Tergantung personalnya mau pakai yang mana. Karena sudah banyak pilihan dan itu sudah bagus-bagus kualitasnya," ungkapnya.
Rezha menyadari betul, bahwa saat ini olahraga sudah banyak dijadikan lifestyle. Termasuk bagi para perempuan. Mereka ingin berolahraga, namun tetap menutup aurat dan menjalankan kewajibannya sebagai muslimah.
Namun Rezha mmenyebut, ada beberapa olahraga yang membutuhkan pakaian spesifik. Ketika olahraga menggunakan pakaian yang terlalu lebar atau gombrong akan membatasi pergerakan, seperti gaya aerodinamis dan gerakan akselerasi.
Dalam konteks lain, Reza menuturkan bahwa berolahraga mengenakan pakaian tertutup, dengan bahan yang tidak ideal, justru akan menimbulkan beberapa risiko. Seperti lebih cepat dehidrasi, peningkatan suhu tubuh ekstrem, gangguan pernapasan, hingga dikhawatirkan terjadinya hal-hal yang tidak dinginkan.
"Berolahragalah menggunakan pakaian yang disesuaikan dengan tujuannya, baik rekreasi, rehabilitasi, atau prestasi," imbaunya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita