RADAR JOGJA - Inovasi di sektor kuliner terus dilakukan dan terjadi. Tidak hanya dari segi rasa, namun juga pada bentuk. Seperti adanya pancake motif kartun yang cukup menarik perhatian.
Dosen Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Kokom Komariah mengungkapkan, secara konsep, pancake motif kartun merupakan kombinasi antara makanan dan seni. Menurutnya, hal tersebut yang menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen.
Menurutnya, makanan memang erat kaitannya untuk dikombinasikan dengan aspek lain. Seperti makanan dengan budaya maupun sejarah. "Adanya akulturasi atau penggabungan makanan dengan aspek lain itu sudah sejak dulu," bebernya.
Salah satunya, makanan Indonesia yang mengadopsi dari Belanda maupun Jepang. Beberapa negara yang datang ke Indonesia, secara garis besar juga memengaruhi landskap kuliner dan gastronomi nusantara. Sebab, banyak negara tersebut datang dengan ciri khas dan budaya masing-masing. Lalu saat datang ke Indonesia, ada percampuran yang terjadi.
"Contohnya pancake ini, kan bukan asli dari Indonesia juga. Ini akulturasi budaya," paparnya.
Jika di luar negeri seperti Eropa, pancake dijadikan menu sarapan. Namun di Indonesia, hanya menjadi sebuah camilan. “Karena makanan pokok kita nasi," sebutnya.
Kokom berpandangan, inovasi pada makanan memang perlu, dan akan selalu ada. Namun, harus dipahami bahwa higienitas, filosofi, hingga bahan dan penyajian juga jadi hal yang tidak boleh dikesampingkan.
"Higienitas itu wajib. Enak itu kan soal selera, tapi kebersihan itu mutlak," tegasnya.
Selain itu, penggunaan bahan baku juga menjadi perhatian. Terlebih pancake motif kartun menggunakan macam-macam pewarna. “Harus dipastikan food grade,” ucapnya.
Inovasi pada makanan, lanjutnya, memang diperlukan. Salah satu alasannya adalah untuk tetap menjaga kelestarian dan eksistensi makanan tersebut. Di samping itu, dengan adanya inovasi juga memungkinkan temuan menu-menu baru, dan dapat memperkaya khasanah kuliner. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita