RADAR JOGJA - Momentum wisuda tidak bisa dilepaskan dari jasa sewa fotografer pribadi. Bahkan semakin laris pascapandemi Covid-19.
Penyedia jasa selaku fotografer Eustakius Rakyan menilai, konsep ini memiliki daya tarik tersendiri. Sebab para wisudawan bisa lebih bebas mengekspresikan dirinya dengan berbagai pilihan spot estetik. Yang tentunya dapat menambah nilai keindahan pada foto.
“Seringnya dapat konsep on the spot di lingkungan kampus, kebetulan banyak gedung kampus yang bagus-bagus,” ujarnya Jumat (12/6/2024).
Dalam hal konsep, dia sering memotret wisuda dengan konsep journey yang dipadu dengan editing ala street photography. Meskipun konsep formal atau simbolis juga tak jarang dia ampu. “Sekarang itu yang lagi naik konsep kayak candid emosional gitu. Jadi lebih ke suasananya yang deep,” jelasnya.
Lelaki 25 tahun ini mematok harga Rp 400 ribu hingga Rp 700 ribu untuk setiap sesi. Menyesuaikan kesepakatan klien.
Menjadi fotografer wisuda juga memiliki tantangannya sendiri. Tidak hanya harus bisa mengatasi masalah teknis seperti pencahayaan dan komposisi, tetapi juga harus bisa bekerja di tengah keramaian dan mengatur orang-orang agar tidak mengganggu jalannya prosesi.
"Kadang-kadang harus cepat beradaptasi dengan kondisi lapangan. Wisuda kan sangat terstruktur, jadi harus pintar-pintar mencari sudut yang tepat biar bisa menangkap gambar yang maksimal," ungkap Rakyan.
Fotografer lainnya Chrisna Ardianto Putra menuturkan, sebelum pandemi Covid-19, konsep foto wisuda yang banyak diminati umumnya bertema estetis dengan latar belakang kampus atau lokasi wisuda. “Kadang saya juga minta moodboard ke klien. Kalau nggak, ya saya ambil konsep simpel, seperti di gedung kampus dengan samir dan ijazah, bersama orang tua atau keluarga," beber pria 28 tahun ini.
Namun setelah pandemi, Chrisna melihat adanya perubahan tren dalam konsep foto wisuda. Saat ini menurutnya, konsep foto wisuda lebih ke arah editorial dan momen yang lebih mendalam. Dulu, kata dia, foto wisuda lebih mengutamakan warna dan latar belakang serta ekspresi yang bagus.
Dari sana, dia mulai mengunggah hasil fotonya di Instagram. Akhirnya mendapatkan tawaran dari klien melalui direct message (DM). Dari lima orang di agensinya, yang biasa memotret wisuda hanya dua orang, salah satunya Chrisna. “Akhirnya, saya yang sering dapat job," tambahnya.
Selain promosi melalui media sosial, Chrisna juga mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Teman-temannya sering merekomendasikan dirinya ke klien. Biasanya klien langsung menghubungi Chrisna lewat DM.
Meskipun enggan mengklaim dirinya sebagai fotografer profesional, Chrisna tetap mematok tarif yang cukup terjangkau. Hanya untuk menutupi biaya sewa alat.
"Biasanya saya cuma minta tarif untuk mengganti ongkos sewa alat, transportasi, dan durasi pemotretan. Biasanya 2-3 jam pemotretan per sesi. Rata-rata saya mark up 10-15 persen dari total tarif," jelasnya.
Untuk hasil, klien biasanya menerima file foto dalam format soft file. Meski ada juga yang meminta fotonya dicetak dalam bentuk photobook. "Nanti yang cetak mereka (klien)," ujar Chrisna.
Chrisna memulai kariernya sebagai fotografer komersial pada tahun 2018, setelah lulus kuliah. Meskipun dijalani dengan on-off, Chrisna terus melanjutkan profesinya untuk menambah penghasilan dan memperluas portofolio. (tyo/eno)