RADAR JOGJA - Silent walking atau berjalan dengan keheningan, belakangan jadi fenomena yang masif dilakukan banyak orang. Praktik tersebut banyak terjadi karena disinyalir bisa mengurangi stres, dan membuat seseorang lebih tenang.
Dosen departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (FIPP UNY) Nesya Adira mengatakan, silent walking sejatinya hanya salah satu kegiatan yang dasarnya adalah mindfulness.
"Silent walking itu fenomena sederhana sebenarnya. Hanya berjalan saja, dan itu metode atau bentuk mindfulness," katanya pada Radar Jogja Jumat (27/9/2024).
Mindfulness sendiri secara garis besar adalah bentuk kegiatan yang mengajak orang untuk berfokus pada dirinya sendiri dalam kegiatan yang dilakukan, dengan berbagai metode dan pendekatan. Seperti meditasi, olahraga, dan termasuk silent walking.
"Silent walking mudah dilakukan, lebih efisien juga dibanding kegiatan lain yang butuh alat tertentu. Ada benefit kesehatan, baik mental atau fisik," tutur dosen yang banyak mengkaji psikologi sosial ini.
Baca Juga: Pemasaran Jadi Kendala Utama UMKM di Sleman, Maish Pakai WhatsApp Mode Biasa
Dari segi psikologi, Nesya menilai bahwa silent walking lebih relevan dilakukan di ruang-ruang terbuka, atau berbasis alam. Karena hal tersebut bisa menstimulus pikiran dan tubuh seseorang menjadi lebih rileks. "Alam akan lebih banyak memberi ketenangan, ada istilah back to nature, karena itu benar adanya," paparnya.
Sebab hal itu memengaruhi untuk mengeluarkan emosi-emosi negatif. “Jadi bisa mengelola mood positif," sambungnya.
Dia pun mengamati, berbagai bentuk kegiatan mindfulness terus hadir silih berganti saat ini. Salah satunya, hal tersebut ditengarai oleh tingkat stres masyarakat tinggi dan terus bertambah. "Hubungan sosial, keluarga, hingga pekerjaan itu cukup banyak memengaruhi stress level seseorang," urainya.
Baca Juga: Tiga Nama Pimpinan Dewan Diusulkan, Tunaryo Diusulkan Jadi Ketua DPRD Purworejo Definitif
Disebutkan, stres jadi salah satu topik yang dipelajari di psikologi. Hanya saja, stres bukan merupakan penyakit. “Itu reaksi normal ketika kita dapat tekanan atau situasi yang tak terprediksi," bebernya.
Stres, lanjutnya, tidak bisa dihilangkan. Namun bisa dikelola dan diredakan secara berkala. “Menghilangkan stres itu tidak ada, yang bisa dilakukan adalah meredakan stres dan mengelola reaksi-reaksi yang ditimbulkan," tuturnya.
Meski demikian, banyak orang melakukan kegiatan yang sedang tren hanya karena fear of missing out (Fomo). Kondisi seseorang merasa perlu mengikuti tren, daripada dia harus sendiri dan menjadi soliter. Padahal sejatinya, orang tersebut tidak benar-benar butuh untuk melakukannya. “Tapi kami di psikologi menyebutya konformitas,” ujarnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita