RADAR JOGJA - Urban picnic bisa jadi alternatif untuk menyegarkan pikiran. Kegiatan yang identik dengan menggelar tikar dan makan bersama ini kerap kali diadakan di ruang terbuka hijau. Untuk itu, pengelola mengimbau agar para pelaku bisa bertanggung jawab menjaga kebersihan.
Manajer Wisdom Park UGM Nyoto Sutrisno menjelaskan, taman kearifan ini memang kerap digunakan masyarakat untuk rekreasi. "Mahasiswa berduyun-duyun menggelar tikar," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat yang berkunjung sama sekali tidak dikenai biaya, bahkan termasuk parkir. Padahal, biaya perawatannya tidak sedikit. "Biasanya taman itu dibiayai oleh pemerintah, tapi kalau ini kami sendiri," ujar Nyoto.
Pendapatan Wisdom Park hanya bisa diperoleh ketika ada acara khusus. Itu pun jumlahnya tidak banyak. Untuk itu, dia berharap setidaknya para pelaku urban picnic bisa menjaga kebersihan. Salah satunya dengan membuang sampah pada tempatnya.
"Sampah kami bedakan. Organik kami olah jadi kompos, non-organik dari universitas ada yang mengambil untuk diolah juga," bebernya.
Nyoto juga turut mengingatkan agar para pengunjung bisa taat pada imbauan yang ada. Mulai dari hanya membawa binatang peliharaan pada wilayah tertentu hingga tidak mengonsumsi minuman beralkohol. "Memang ada peningkatan pengunjung cukup drastis. Sebulan sekitar 7000 orang," ucapnya.
Baca Juga: Tradisi Unik, Fulham Ajak Para Pendukungnya Piknik Bersama di Stadion Craven Cottage
Apabila ke depan urban picnic ini semakin masif, Nyoto tak menampik jika akan memberikan perhatian khusus. Misalnya, menyediakan jasa sewa tikar. "Ke depan tentu kajiannya banyak. Intinya kami hanya ingin melayani masyarakat saja," tegasnya.
Nyoto turut berpesan agar para pengunjung bisa menjaga barang bawaannya. Terlebih, banyak barang tertinggal yang ditemukan setiap harinya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala UPTD Pengelolaan Stadion Maguwoharjo yang juga mengelola Lapangan Denggung Sumali. Dia menilai Lapangan Denggung adalah wajah Sleman sehingga harus dijaga kebersihannya. "Jaga sampahnya. Jangan bawa alat yang bisa merusak rumput juga," pesannya.
Sumali tidak mempermasalahkan soal fenomena urban picnic di Lapangan Denggung. Asalkan, tikar tidak digelar di rumput. Selain itu, masyarakat berhati-hati apabila menggunakan kompor portabel. "Ke depan tentu kami akan membuat SOP untuk pelayanan," tegasnya.
Apabila nanti pelaku urban picnic semakin marak, bukan tidak mungkin jika dia akan memberikan perhatian secara khusus. "Harapannya pengunjung bisa saling membantu. Sementara kami akan berbuat sesuai kewenangan," sebutnya.
Sumali juga berharap, pengunjung bisa patuh pada imbauan yang ada. Misalnya, tidak merokok pada ruang bermain anak dan orang dewasa tidak menggunakan permainan yang ada.
"Setiap pelanggaran kalau ketahuan tentu akan kami tegur," ucapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita