RADAR JOGJA - Secara garis besar, urban picnic adalah kegiatan wisata atau refreshing yang dilakukan seseorang di tengah pusat kota, atau area publik. Contohnya seperti taman kota, hingga alun-alun.
Mengamati fenomena ini, Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Grendi Hendrastomo mengatakan, urban picnic memiliki sisi positif dan negatif. Jika dilihat dari segi sosial.
Menurutnya, sisi positif dari urban picnic adalah menunjukkan banyaknya ruang publik yang dihadirkan oleh pemerintah. Baik di tingkat kota/kabupaten maupun provinsi. "Artinya pemerintah berhasil menyediakan ruang publik yang nyaman bagi masyarakat," katanya kemarin (6/9).
Namun sisi negatifnya, yakni adanya kecenderungan masyarakat kekurangan ruang terbuka untuk aktivitas sosial mereka. "Kampung di area kota sudah bukan opsi, karena sempit dan berjejal dengan bangunan dan kepadatan. Jadi harus ke ruang publik yang agak jauh dari rumah," beber Grendi yang banyak meneliti kajian budaya dan media.
Secara demografi, para pelaku urban picnic seringkali berkelompok. Mulai dari rombongan muda-mudi, hingga para keluarga. "Urban picnic ini jadi opsi relevan bagi mahasiswa, picnik, dan kongkow secara murah dan mudah," urainya.
"Secara cost ini lebih murah dibanding misal ke pantai atau ke mal, aksesnya juga lebih dekat dan mudah," sambungnya.
Baca Juga: Mengapa Penting Mengikuti Berita Viral? Memahami Fenomena Viral dan Manfaatnya, Simak Penjelasan Ini
Selain itu, faktor lain yang mungkin jadi alasan seseorang memilih urban picnic adalah karena adanya ruang untuk mengekspresikan diri dalam publik. Karena bisa berkegiatan secara lebih bebas, sebab berada di outdoor. "Bisa juga melakukan hal-hal lain, misal buat konten untuk kebutuhan sosial media," urainya.
Dia menekankan, fenomena urban picnic ini juga harus ditanggapi oleh pemerintah melalui aturan dan regulasi. Termasuk, aturan soal kebersihan, keamanan, hingga merokok. "Kalau perlu ada regulasi tertulis. Seperti larangan merokok di kawasan Malioboro," ujarnya mencontohkan.
Hal ini karena ruang publik jadi momentum bertemunya banyak individu dengan latar belakang yang berbeda. Untuk membuat keteraturan tersebut, diakuinya memang harus ada regulasi yang tegas.
Pun pemerintah, rasanya juga tidak perlu khawatir akan ditinggal wisatawan saat ada regulasi yang jelas dan tegas. "Seperti di luar negeri saja, kita sebagai turis juga pasti akan ikut aturan," lontarnya.
Kebersihan hingga keamanan pengunjung pun harus diperhatikan. Beberapa titik atau ruang publik di Jogja masih belum sepenuhnya bersih dan ideal digunakan untuk wisata. "Masih ada penumpukan sampah," ucapnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita