RADAR JOGJA - Pranata mangsa (ketentuan musim) adalah penanggalan yang dikaitakan dengan kegiatan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan.
Pranata mangsa ini berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari).
Pranata mangsa memuat berbagai aspek fenologi dan gejala pada alam lainnya, yang kemudian dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan bertani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman dan lain-lain).
Beberapa daerah di Nusantara memiliki sistem penanggalan lokal, salah satunya adalah kalender pranata mangsa.
Kalender ini digunakan oleh masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali Tradisional.
Kono, sistem pada kalender ini sudah ada sejak zaman Raja Aji Saka yang bertahta di Medang Kamulan.
Yang mana usia kalender dan perhitungan tersebut sudah mencapai ribuan tahun.
Namun sudah berkembang dari dulu Kalender ini bersifat lengkap dan komperhensif.
Pranata mangsa berasal dari kata pranata yang berarti aturan, dan mangsa berarti masa atau musim.
Jadi arti dari kalender pranata mangsa ini adalah memberikan informasi tentang perubahan musim yang terjadi tiap tahunnya.
Kalender Pranata mangsa ini menggambarkan kedekatan masyarakat tradisional Nusantara dengan alam.
Alam bukanlah lawan yang harus ditaklukkan, melainkan dunia di mana manusia bisa menjadi bagian darinya.
Kesadaran sebagai bagian dari alam inilah yang membuat masyarakat Nusantara berusaha mempelajari perilaku alam.
Dengan demikian, Pranata mangsa memiliki akar latar belakang kosmografi dan bioklimatologi.
Kalender ini disusun berdasarkan pengamatan terhadap alam, seperti perubahan iklim di bumi, maupun pergerakan benda angkasa.
Bagaimana Cara Menggunakan Kalender Pranata Mangsa?
Cara menggunakan kalender ini dilihat dari titik-titiknya, kalau mau melihat hari, dan menghitung waktu dilihat dari neptu.
Itu dari tandanya titik, dan pada kalender Pranata mangsa ini juga terdapat wuku, wuku sendiri merupakan istilah penanggalan masyarakat Jawa yang berumur tujuh hari dengan siklus 30 pekan.
Nah, jadi bagaimana apakah tertarik untuk menggunakan kalender ini atau malah menggunakan kalender pada umumnya? (Bayu Prambudi Susilo)
Editor : Meitika Candra Lantiva