RADAR JOGJA - Journaling belakangan jadi hal yang kian masif dilakukan, secara umum journaling yakni kegiatan di mana individu menuangkan
pikiran dan perasaannya melalui medium journal.
Umumnya, journal tersebut berisi tulisan, namun tidak jarang para pelaku journaling juga mengombinasikan dengan berbagai aksesoris lain, mulai dari stiker, robekan dari sebuah buku, hingga foto.
Salah satu orang yang cukup aktif melakukan journaling adalah Syauqinada Ramadhanty, dia mengaku sudah melakukan journaling sejak 2017 silam.
"Aku lupa, tahu journaling pertama kali dari mana. Tapi pertama coba itu saat SMA, 2017," katanya pada Radar Jogja Jumat (2/8).
Sebelum itu, Syauqi mengaku memang suka menulis. Dilakukan sejak duduk di sekolah dasar dengan menuliskan diary.
Syauqi sendiri menyadari, bahwa journaling memang cukup banyak dilakukan orang-orang, utamanya adalah perempuan. Hal ini terlihat di lingkar pertemanannya. Hingga beberapa public figure yang melakukan journaling. "Mungkin cowok juga ada, tapi kayaknya gak banyak," ungkapnya.
Dalam prosesnya, dia banyak belajar journaling secara otodidak. Ditambah dengan referensi yang didapatkan dari sosial media atau konten-konten yang bertebaran di internet.
"Aku banyak ngulik dari sosmed dan beberapa konten lain, banyak juga di aplikasi seperti Pinterest. Aku banyak fase trial error-nya," tuturnya.
Secara umum, dia menilai journaling adalah penuangan perasaan atau gagasan yang sifatnya personal. Menurutnya, tidak ada pakem atau aturan pasti journaling harus seperti apa.
"Tidak ada pakem atau standarnya, itu murni kreativitas masing-masing saja," ucapnya.
Adapun, konten yang dibuat saat journaling juga sangat variatif. Mulai dari hal-hal yang harus dilakukan untuk menunjang produktivitas, self development, habit tracker, mood tracker, hingga gratitude journal yang isinya highlight kata-kata positif untuk memotivasi diri sendiri.
"Aku kalau journaling ada bulan dan tanggal penulisan, ada juga monthly planner yang akan dilakukan ke depannya," sebutnya.
Dari kebiasaan melakukan journaling, Syauqi merasa mendapat banyak manfaat. Seperti membiasakan diri berpikir kreatif, mengingat sesuatu secara lebih detail, bahkan bisa mengenali dirinya secara lebih mendalam. "Contoh mood tracker, isinya keterangan mood harian, mulai dari happy, biasa aja, sedih. Itu bisa untuk evaluasi dan mengenali diri sendiri lebih dalam," paparnya.
Dalam praktiknya, dia juga kerap membagikan momen atau konten journaling di sosial media pribadinya. Hal tersebut ternyata juga berdampak ke beberapa temannya yang meminta rekomendasi atau sekadar arahan untuk melakukan journaling. "Aku terbuka aja untuk sharing," bebernya.
Beberapa hal yang biasanya jadi bahan diskusi atau saran lebih ke bagaimana cara memulai journaling. Kemudian isi atau konten apa yang akan dimuat di dalamnya, hingga ornamen atau aksesoris tambahan yang bisa membuat journal kian menarik.
Disebutkan, bahwa hal-hal yang sifatnya kreatif tersebut akan datang dengan sendirinya seiring kebiasaan journaling yang terus dilakukan. Justru dia merasa ketika memulai journaling dengan target harus sempurna, maka akan membebani diri sendiri. Hal ini malah berpotensi memicu stres.
"Journaling itu salah satu cara untuk melepas stres, jangan sampai justru jadi stres pada saat bikinnya," pesannya.
"Kalau sedang stuck atau tidak ada ide ya berhenti dulu tidak apa-apa, tidak harus dipaksakan," sambungnya.
Selanjutnya, Syauqi berujar, kebingungan saat akan memulai journaling memang hal yang wajar. Dia sendiri juga pernah berada di posisi tersebut. "Dulu pas belajar aku mikirnya harus sempurna, tulisan harus rapi, garis harus presisi, ternyata malah bikin stres sendiri," kenangnya.
Untuk orang yang baru memulai journaling, biasanya ia menyarankan untuk mengawali dari hal-hal yang sifatnya personal. Bisa dari hal yang disukai, diinginkan, atau bahkan perasaan yang sedang dialami. "Yang ideal itu eksplorasi dan belajar sendiri, karena sekali lagi, itu sesuatu yang personal dan tidak ada aturan baku," pesannya.
Lebih lanjut, dia berujar bahwa journaling saat ini juga bisa dilakukan secara digital, dengan tablet ataupun laptop. Secara garis besar, journaling digital lebih efisien dan memudahkan. Namun dia sendiri tidak cukup cocok untuk metode tersebut.
"Kepuasan batinnya berbeda, journaling manual lebih menyenangkan dan lebih memuaskan," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika