RADAR JOGJA - Kegiatan study tour ke dalam maupun luar negeri oleh siswa tidak bisa dipisahkan dari biro perjalanan wisata. Sebab agen wisata ini yang akan memfasilitasi sarana dan prasarana kegiatan study tour.
Seperti yang dilakukan oleh Biro Perjalanan Wisata Lestari Wisata Jogja. Dalam setahun, Lestari Wisata Jogja bisa mengantar sebanyak lima hingga tujuh sekolah untuk study tour. Kliennya selama ini kebanyakan adalah siswa tingkat SMP sampai tingkat SMA/SMK. “Itu dari Jogja sendiri lalu dibawa keluar, ada juga yang dari luar Jogja kami bawa ke Jogja,” ujar
CEO Lestari Wisata Jogja Imam Prayitno kemarin (17/5).
Untuk siswa sekolah dari luar Jogja, kebanyakan berasal dari Jawa Timur. Seperti dari Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, dan Sidoarjo. Sementara itu, Lestari Wisata Jogja juga sering mengantar pelajar dari Jogja untuk study tour ke luar daerah. Seperti ke Semarang, Bandung, Jakarta, Malang, hingga Bali. “Selain itu juga ke Lombok dan Labuan Bajo,” kata Imam.
Dia mengatakan, pihaknya juga menawarkan study tour dengan menggunakan moda transportasi pesawat. Selain overland menggunakan bus. Hal itu, menurutnya, bisa menjadi solusi bagi customer menggunakan mode transportasi pesawat. “Pasar kami luas, tidak hanya korporat dan pemerintah saja,” ungkapnya.
Imam menjelaskan, agen travelnya menawarkan sejumlah paket perjalanan. Baik ke kota-kota di Pulau Jawa maupun di luar. Harganya variatif, berada di kisaran Rp 1,2 juta hingga Rp 9 juta per orang.
Sebagai biro perjalanan, dirinya menyebut bahwa pihaknya terlebih dulu melakukan sejumlah persiapan. Seperti mengedukasi calon customer agar jangan tergoda oleh biaya yang murah. Setidaknya calon customer harus tahu betul mitra yang akan diajak bekerjasama. “Bironya harus legal, kantornya ada. Bironya sendiri juga kerja sama dengan jasa transportasi yang legal,” ucapnya.
Imam mengatakan, sudah menjadi tradisi bagi pihaknya ketika hendak melakukan agenda study tour untuk menjalin kerja sama dengan mitra. Dalam hal ini adalah sekolah. Komunikasi dilakukan secara terbuka. Lalu kedua belah pihak membubuhkannya di dalam suatu lembar perjanjian.
“Kesepakatan semua disampaikan. Termasuk fasilitas. Jangan sampai nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan hingga membuat kecewa, akhirnya membuat perjalanan menjadi tidak nyaman,” katanya.
Setelah dilakukan kerja sama, Imam menyebut pihaknya kemudian memastikan mode transportasi benar-benar layak. Dia mengupayakan untuk selalu bisa mewujudkan armada transportasi yang sesuai dengan perjanjian bersama customer. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita