Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Muslim Tak Permasalahkan War Takjil, Justru Dipandang Wujud Pluralisme

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 23 Maret 2024 | 17:00 WIB

 

IKUT ANDIL: Syancin Patuwo atau Cici (kaos putih), Jeffy Immanuel, dan Barrotut Taqiyyah saat menunjukkan buruan takjil yang diperoleh di Pasar Ramadan Karangmalang kemarin (22/3).
IKUT ANDIL: Syancin Patuwo atau Cici (kaos putih), Jeffy Immanuel, dan Barrotut Taqiyyah saat menunjukkan buruan takjil yang diperoleh di Pasar Ramadan Karangmalang kemarin (22/3).

RADAR JOGJA - Fenomena war takjil yang melibatkan umat non-muslim turut direspons oleh kalangan muslim. Tren ini pun tak pernah dianggap sebagai masalah oleh kalangan orang Islam. Fenomena tersebut malah mencerminkan bahwa pluralisme yang terlihat kuat. Hal ini diungkapkan oleh Nur Mucklis, perantau Jogja yang beragama Islam.

Dia menilai, munculnya war takjil di pasar Ramadan di tahun ini kemungkinan karena viral di media sosial. Terlebih banyaknya non-muslim yang ikut memviralkan keseruan saat berburu takjil sekalian dengan jalan-jalan sore. "Bagi saya fenomena itu sangat menarik, romantis lihat mereka saat berebut jajanan. Ada yang pakai kerudung, ada yang tidak, dan mereka sama-sama senang kelihatannya," jelasnya kemarin (22/3).

Selama masih taraf aman dan tidak terlalu berebut, hal ini pun tidak menjadi masalah. Menginat perburuan takjil di Jogjakarta terbagi menjadi dua jalur. Yakni gratis dan berbayar. "Kalau saya seringnya war takjil di masjid, jadi memang ada tapi tidak banyak teman-teman non-Islam yang ikut berburu," lontarnya.

Sementara itu, pemburu takjil lainnya adalah Nisa Nandifa, 30. Dia mengaku hobi berburu takjil baik jalur membayar ataupun gratis. "Saat Ramadan itu takjil di mana-mana. Mau di masjid, pasar Ramadan, dipinggir jalan, itu sediakan takjil gratis," ujarnya.

Menanggapi fenomena war takjil, dia menilai kegiatan berburu makanan untuk berbuka puasa bisa dinikmati oleh siapa pun. Namun dia menekankan, warga muslim harus diprirotaskan. "Bukan karena apa-apa, melainkan sebab didahulukan itu karena muslim harus segera membatalkan puasanya," bebernya.

Pasar Ramadan Jogokaryan dan Lembah Universitas Gajah Mada (UGM) merupakan dua lokasi favorit untuk war takjil. Setiap sore, di sana warga tumplek blek untuk mencari berbagai macam jajajan.

"Banyak banget yang non-muslim, sampai temenku yang tidak pakai kerudung dan seperti warga non-muslim juga disuruh menunggu sama yang jualan, padahal kan dia puasa," kelakarnya. (oso/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#war takjil #ramad