Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Daun Pacar Dimungkinkan untuk Pewarna Alami Batik

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 3 Maret 2024 | 16:30 WIB
BATIK KHAS: Suasana pembatik di Gunting dan suasana pedukuhannya dan Sendang Plempoh.Khairul Ma
BATIK KHAS: Suasana pembatik di Gunting dan suasana pedukuhannya dan Sendang Plempoh.Khairul Ma



RADAR JOGJA - Dalam dunia seni, banyak sekali teknik atau cara penciptaan warna dari bahan alami hingga sintetis. Beberapa bahan dasar pembuatan warna alami diantaranya adalah kulit kayu Tingi, daun Indigovera, Mahoni, Secang, Pace dan bahkan bunga dari tumbuhan pacar yang disinyalir juga bisa diaplikasikan untuk pembuatan warna pada kain. 


"Tumbuhan pacar setahu saya hanya untuk pewarna kuku dan memang kalau di kuku daya tahannya lama, kemungkinan itu juga bisa diaplikasikan ke kain untuk pewarna membatik," ujar praktisi Seni Kriya lulusan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Rudan Gumanti, Sabtu (2/3). 


Dirinya mengaku memang belum pernah mengekstrak bunga pacar untuk dijadikan pewarna alami. Bahan pewarna alami yang sering ia pakai dan dipakai oleh para pembatik adalah kulit kayu tingi dan tegerang. Kedua bahan tersebut bisa menghasilkan warna cokelat tua yang pekat. 

"Salah satunya karya batik motif klasik teknik pewarnaan alam soga (cokelat) itu juga dari kayu tingi atau tegerang," jelasnya.


Selain itu, biasanya untuk menghasilkan warna biru dongker ia juga memanfaatkan daun indigovera. Kebanyakan pembatik pakai itu kalau membutuhkan warna biru, lanjutnya. 

"Pengolahan bahan (pembuatan warna) hampir sama, kalau dari kulit kayu bisa dijemur dulu sampai kering. Kalau sudah kering baru direbus. Proses perebusan kurang lebih selama 12 jam," tandasnya. 


Dua belas jam proses merebus tersebut dibagi menjadi dua sesi. Pada enam jam pertama direbus seperti biasa, selanjutnya enam jam berikutnya direbus dan dicampur dengan gula jawa.

"Supaya zat warna dapat keluar secara sempurna, ditunggu sampai kental dulu seperti jenang," bebernya. 


Salah seorang praktisi kriya tekstil alumni ISI Yogyakarta, Ratih Artika menyebut, tumbuhan pacar memang bisa menghasilkan pewarna alami. Namun, kebanyakan tumbuhan pacar digunakan untuk membuat karya ecoprint.

 "Tapi juga jarang orang-orang memanfaatkan itu, karena cenderung warnanya susah keluar untuk diaplikasikan ke kain," tuturnya.


Ia menambahkan biasanya pewarna alami dihadilkan dari tumbahan Mahoni, tingi, secang dan pace. Selain itu dirinya juga pernah membatik dengan menggunakan tanaman indigofera. 

"Kalau membatik dengan pewarnaan alam sudah pernah tapi khusus warna biru dari indigofera. Kalau warna lain mahoni itu menghadilkan warna coklat, tingi juga cokelat sedangkan secang merah dan oranye," jelasnya. (oso/pra)



 

Editor : Heru Pratomo
#universitas negeri yogyakarta #seni kriya #Dunia Seni #kulit kayu