RADAR JOGJA – Sudah menjadi hal yang lumrah untuk memiliki akun Instagram, hal ini untuk menyesuaikan perkembahan kecanggihan teknologi.
Seringkali akun Instagram menjadi ruang berekspresi bagi para penggunanya, termasuk Gen Z.
Bahkan ketika berkenalan dengan orang baru, merekan akan memilih untuk saling follow akun Instagram daripada membagikan nomor WhatsApp. Karena hal tersebut dianggap privasi.
Maraknya akun Instagram di era digital ini, telah melahirkan sebuah tren yang familiar ditelinga Gen Z.
Yaitu sebutan first account dan second account.
Maksudnya adalah, first account merupakan akun Instagram sebagai ruang membangun personal branding.
Akun ini menjadi akun utama pengguna Instagram yang diekspos secara publik untuk memperlihatkan identitas pengguna.
Dilansir dari sabili.id Dalam akun utama biasanya pengguna menampilkan informasi lengkap seputar dirinya di laman profil, dan memperlihatkan kesibukan yang sedang mereka jalani.
Misalnya seperti, seorang mahasiswa atau pengguna sedang bekerja di suatu perusahaan ternama, mereka akan membagikan aktivitasnya di akun utama.
Tak jarang juga pengguna memperhatikan estetika akun utamanya.
Mulai dari pemilihan tone warna untuk feeds yang senada, postingan yang diedit sebagus mungkin, hingga memanfaatkan fitur yang ada untuk menambah kesan menarik konten yang akan diunggah.
Intinya, semua yang diekspos di first account adalah sisi baik dari cerita hidup si pengguna akun. Hal itu digunakan sebagai virtual identity mereka.
Baca Juga: Mengenal Kalender Gregorian, Kalender Internasional Lengkap Dengan Faktanya..
Menurut Jacob van Kokswijk (2006), virtual identity atau identitas virtual adalah tampilan diri seseorang dalam dunia maya, ketika ia bebas menentukan ingin menjadi apa dalam dunia maya tersebut.
Namun, perlu diketahui bahwa virtual identity juga berpengaruh pada personal branding.
Sekarang ini, orang bisa dengan mudah mengetahui kualitas seseorang hanya dari profil Instagramnya saja.
Jika seseorang menciptakan identitas virtual dengan baik, maka secara otomatis akan muncul personal branding yang baik pula.
Jika ingin dikenal sebagai seorang aktivis, maka penuhi first account-mu dengan kegiatan organisasi yang kamu suka.
Jika kamu ingin dikenal sebagai kreator, buat first account-mu dipenuhi dengan konten yang berkesan.
Jika kamu ingin dikenal sebagai seorang inspirator, mulailah menginspirasi banyak orang melalui first account-mu. Dan seterusnya.
Oleh karena itu, Gen Z biasa mengemas first account Instagramnya dengan sangat baik serta menyajikan konten yang menarik untuk menciptakan personal branding yang baik pula bagi mereka.
Lalu, untuk apa memiliki second account? Banyak yang mengatakan, second account adalah kebalikan dari akun utama.
Dalam akun utama, pengguna akan menampilkan sisi baik sebagai upaya membangun personal branding.
Sedangkan second account dibuat untuk menampilkan sisi lain karakter pengguna.
“Beda akun beda kepribadian” merupakan istilah yang seringkali diberikan kepada pengguna Instagram yang memiliki dua akun dengan isi yang hampir berkebalikan.
Second account memang banyak digunakan Gen Z sebagai tempat pelepas penat mereka.
Dari 4,76 milyar pengguna media sosial di seluruh dunia, berdasarkan hasil survei Jajak Pendapat (Jakpat) teranyar, mereka yang memiliki second account Instagram mencapai 57 persen per Januari 2023.
Ini membuktikan bahwa second account banyak digandrungi oleh pengguna aktif dunia maya.
Di second account, Gen Z dapat lebih bebas mengunggah foto dan video apa pun tanpa takut dilihat publik.
Biasanya, unggahan itu berisikan konten-konten random dan lucu semisal meme dan shitpost, atau bahkan sekadar membagikan foto selfie yang menumpuk di galeri.
Gen Z juga menggunakan second account untuk menyimpan gambar dan mengabadikan momen-momen yang tidak memungkinkan untuk diunggah pada akun utama.
Misalnya, ketika seseorang sedang mengikuti kegiatan tertentu, ia akan merekam keseruan yang terjadi di belakang layar dan mengunggah video tersebut di akun keduanya.
Sebab, ia merasa kurang cocok jika hal itu dibagikan di akun pertama.
Selain itu, second account juga kerap dijadikan Gen Z sebagai tempat cerita dan berkeluh kesah untuk soal sehari-hari.
Atau bahasa gaulnya adalah ‘nyambat/sambatan’.
Sambatannya juga bervariasi. Ada yang sambatannya berupa luapan amarah atas suatu hal, ada juga yang berupa sambatan galau karena sedang sedih.
Ada pula yang sambatannya sekadar menceritakan kejadian yang ia alami selama satu hari penuh.
Second account ini bersifat privat.
Bahkan username-nya juga banyak yang tidak menggunakan identitas asli para pengguna.
Followers-nya juga sedikit dan hanya terdiri dari orang-orang terdekat saja.
Jadi, tidak heran jika Gen Z lebih leluasa untuk mem-publish apa saja di akun ini. (Zulfa/Radar Jogja)
Baca Juga: Tidak Pantas, Bung Towel Kritik Cara Timnas Indonesia Lolos Babak 16 Besar Piala Asia
Editor : Meitika Candra Lantiva