RADAR JOGJA - Sukses bukanlah diukur dari materi. Namun bagaimana kemampuan yang dimiliki bisa ditularkan kepada orang lain. Hingga orang lain tersebut mampu berguna bagi sekitarnya. Itulah pedoman yang dimiliki oleh Yohanes Hendra Dwi Utomo.
Dia saat ini menjabat sebagai ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bantul periode 2023-2028. Di samping itu, dia kini mengelola sebuah hotel di Kapanewon Dlingo, yakni Little Tokyo Resort.
Perjalananya menjadi seorang hotel manager dan ketua PHRI Bantul tidaklah mudah. Jalannya juga tidak selalu mulus. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi.
Hendra terjun ke dunia hospitality sekitar 2004. Latar belakang pendidikannya bukan di bidang perhotelan. Melainkan teknik informatika. Ia merintis karirnya dari tingkat bawah. Menjadi asisten pramusaji yang tugasnya hanya memoles barang-barang dapur. “Saat itu cuma dibayar hanya Rp 25 ribu sehari di salah satu bar di Jogja,” katanya saat ditemui Radar Jogja Jumat (19/1).
Pada saat itu, dia mengaku masih menjadi kutu loncat. Berpindah-pindah restoran dan hotel. Hal itu karena dia masih takut apakah bisa menekuni bidang hospitality atau tidak. Hendra pun sempat dipandang sebelah mata karena tidak punya latar belakang di bidang ini.
Dua tahun menjadi asisten pramusaji, dia akhirnya promosi menjadi seorang waiter tetap selama empat tahun. Kemudian dia berpindah ke Bali dan mendapatkan jenjang karir di sana. Pada 2017, Hendra kembali ke Jogja. Lalu diminta untuk memegang salah satu restoran dan meeting room yang cukup besar di Bantul, Radja Resto. “Di situlah saya diajak masuk ke PHRI,” ungkapnya.
Dia berada di sana hingga 2021. Kemudian sempat berpindah ke Semarang. Namun karena ketidakcocokan dengan manajemen, Hendra akhirnya kembali pulang ke Jogja. Kemudian dia dikontak oleh manajemen Little Tokyo Resort. Awalnya hanya menjadi manajer Food and Beverages. Namun karena owner dan manajemen melihat kemampuan Hendra yang cukup baik, dia pun akhirnya diangkat menjadi hotel manager. “Di sini mengurusi semuanya, termasuk keuangan dan strategi pemasaran, juga rekrutmen pegawai,” jelasnya.
Pria kelahiran Palembang ini menyebut, menjadi seorang ketua PHRI Bantul mungkin tidak ada bayarannya. Namun dia mencari peluang bagaimana ada timbal balik yang menguntungkan dirinya dan menguntungkan asosiasi yang dipimpinnya. Dari PHRI-lah Hendra kini memiliki banyak jaringan. “Kesuksesan ini tidak bisa saya ambil sendiri karena yang membuat saya seperti sekarang ini ada banyak. Ada staf saya, keluarga, relasi, dan termasuk PHRI DIJ,” ujarnya.
Hendra sendiri masih berpegang teguh pada prinsipnya. Untuk konsisten dan berkomitmen mengembangkan passion di dunia hospitality. Meskipun banyak yang menawarinya berpindah ke bidang lain. Seperti menjadi seorang PIC di perusahaan tambang dengan gaji yang cukup tinggi.
Tapi baginya sukses bukanlah soal materi. Namun menciptakan ‘Hendra-Hendra’ baru yang bisa memberikan kontribusi kepada daerah, properti, dan khususnya dunia pariwisata. “Itu salah satu goals hidup saya, saat melihat anak didik saya bisa menjadi seorang yang berguna,” kata Hendra.
Ke depannya, pria kelahiran 1981 ini ingin meningkatkan Kabupaten Bantul memiliki tingkat kualifikasi dan kompetensi di dunia pariwisata dengan pengembangan SDM. Jangan sampai warga di Kabupaten Bantul tidak memiliki kompetensi di dunia pariwisata atau perhotelan yang akhirnya dibayar murah. “Saat memiliki kompetensi tentunya memiliki harga jual. Ketika punya harga jual maka harus ditunjang dengan kompetensi dasarnya,” tandasnya. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita