Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Istilah DoFarming Ramai Menjadi Perbincangan di Korea Selatan, Apasih Maknanya? Yuk Simak !

Meitika Candra Lantiva • Rabu, 17 Januari 2024 | 23:34 WIB

ilustrasi DoFarming.
ilustrasi DoFarming.


RADAR JOGJA - Di era digital yang semakin canggih, istilah DoFarming sedang menjadi perbincangan hangat di Korea Selatan.


Istilah ini merujuk pada praktik meraih kepuasan melalui paparan konten digital yang memicu pelepasan hormon dopamine dalam otak.

Praktik DoFarming telah menimbulkan dampak yang signifikan terutama dikalangan generasi Z.


Terdapat beberapa pandangan para ahli menegenai fenomena DoFarming;


Pengertian DoFarming


DoFarming merupakan istilah yang mengggabungkan kata “Dopamin” (hormon yang dikeluarkan saat merasakan kesenangan) dan “Farming”.


Istilah tersebut mengacu pada praktik merasakan kepuasan melalui paparan konten digital yang memicu penjelasan hormon dopamine dalam otak.

Seperti halnya, dapat terjadi ketika seseorang terlalu lama menonton konten media sosial maupun video pendek tanpa menyadari waktu telah berlalu.


Dampak DoFarming dalam kehidupan sehari-hari


Dikutip dari situs MBN, sebuah kasus yang diceritakan sendiri oleh seorang pekerja bernama Kim yang telah merasakan dampak dari DoFarming.

Ia menghapus dan meng install kembali aplikasi instagram setiap hari sebagai upaya untuk menghentikan praktik DoFarming tersebut.


Kim mengatakan bahwa ia menginstal instagram ketika berangkat ke kantor dan uninstall kembali ketika perjalanan pulang dari kantor, agar ketika ia sampai dirumah tidak melihatnya lagi.

Dia sering kali tidak menyadari bahwa waktu yang dihabiskan untuk menonton konten tersebut bisa mencapai satu jam lebih hingga 2 jam.


Salah satu jenis DoFarming yang paling populer adalah platform sosial media dengan konten berdurasi pendek, seperti TikTok, Instagram dan YouTube Short.

Paparan yang terus – menerus dari konten-konten tersebut dapat menyebabkan kecanduan untuk terus menerus melihat maupun scroll kontennya, karena pelepasan dopamine yang berlebihan dalam waktu singkat.

Seorang Professor Psikiatri SNU menjelaskan bahwa kecanduan terjadi ketika dopamin dilepaskan, dan individu akan terus mencari kesenangan yang sama.

Konten-konten pendek seperti YouTube Short, TikTok, atau Reels Istagram ini disukai karena mereka memicu pelepasan dopamine dalam waktu singkat. (Firda/Radar Jogja)

Baca Juga: Qatar Umumkan Kesepakatan Israel – Hamas Untuk  Memasuki Gaza, Kirimkan Obat-obatan dan Bantuan Pada Masyarakat Terdampak

Editor : Meitika Candra Lantiva
#DoFarming #hormon #Dopamine #Korea Selatan