Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pentingnya Pengelola Emosi: Jangan Marahi Anak dengan Berlebihan

Trimina Klara • Rabu, 27 Desember 2023 | 21:00 WIB
sumber foto Alodokter
sumber foto Alodokter

RADAR JOGJA - Dalam mendidik anak, peran orang tua sangatlah penting.

Salah satu aspek yang tidak boleh diabaikan adalah pengelolaan emosi, terutama dalam hal peringatan atau koreksi.

Marah merupakan emosi yang wajar dialami setiap orang, termasuk orang tua.

Namun, kemarahan yang berlebihan pada anak dapat berdampak buruk pada perkembangan psikologis dan emosionalnya.

Kemarahan adalah bagian alami dari komunikasi sehari-hari.

Namun, kemarahan yang berlebihan, kasar, atau tidak terkendali dapat meninggalkan bekas yang mendalam di pikiran dan hati anak.

Jadi, jika seoarng tua membesarkan anaknya dengan kelembutan apa keuntungannya?

1. Cara membesarkan anak mempengaruhi tumbuh kembang anak

Dalam hubungan orang tua dan anak, cara orang tua membesarkan anaknya sangatlah penting.

Mereka harus menahan diri dengan tenang dan tidak terus-terusan marah.

Reaksi ini seringkali tidak disadari dan dipengaruhi oleh gaya pengasuhan orang tua itu sendiri, sehingga mereka mungkin tidak mengetahui cara lain dalam membesarkan anaknya.

2. Gentle Parenting/ Pengasuhan yang Lembut

Gagasan utama dari gentle parenting adalah agar orang tua tidak terburu-buru dan langsung memarahi anaknya atas kesalahannya, atau jika tidak menyukai apa yang dilakukan anaknya.

Orang tua perlu berhenti dan mendengarkan anak-anak mereka, lalu mengakui perasaan mereka.

3. Menunjang Kecerdasan Emosional

Pola asuh yang lembut berperan dalam membentuk kecerdasan emosional anak.

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan mampu mengidentifikasi emosinya dengan lebih jelas.

Dalam hal ini, orang tua juga sebaiknya menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu proses imajinasi anak.

4. Bereaksi Terhadap Emosi Anak

Setelah mendengarkan perasaan anak, hendaknya orang tua menyikapinya dengan peka agar anak berpikir dengan tenang dan positif terhadap masalahnya.

Sebuah penelitian terhadap lebih dari 1.000 orang tua yang merespons anak-anak mereka secara sensitif, menunjukkan perkembangan sensitif anak-anak, menunjukkan perkembangan keterampilan sosial mereka yang luar biasa pada usia 15 tahun.

Hasil belajar anak juga semakin membaik.

5. Menetapkan Batasan

Anak juga belajar beradaptasi dengan aturan dan konsekuensi.

Baca Juga: Memprihantinkan, Pemain Timnas Indonesia Ketahuan Masak Mie Instan Saat TC

misalnya, orang tua dengan tenang menetapkan aturan.

Solusinya adalah dengan menjelaskan secara singkat kapan anak berperilaku buruk dan berinteraksi dengan hangat ketika mereka berperilaku baik.

Ada tahap ini perasaan emosional disalurkan, ditanggapi dan diselaraskan antara anak dan orang tua.

Editor : Bahana.
#marahi #Mendidik Anak