MBG Model Prasmanan Dianggap Lebih Banyak Kelemahan Dibanding Pakai Ompreng

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 20:20 WIB
ANTRE: Siswa SD Muhammadiyah Bantar mengambil makanan MBG sistem prasmanan. (FOTO: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
ANTRE: Siswa SD Muhammadiyah Bantar mengambil makanan MBG sistem prasmanan. (FOTO: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

KULON PROGO - Uji coba distribusi menu makan bergizi gratis (MBG) model prasmanan telah dilaksanakan di SD Muhammadiyah Bantar, Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo. Menanggapi uji coba ini, DPRD Kulon Progo menilai MBG model prasmanan lebih banyak kelemahan dibanding model ompreng.

Ketua Komisi 4 DPRD Kulon Progo Edi Priyono menyampaikan, telah mendapat informasi terkait uji coba MBG prasmanan di Bumi Binangun. Dalam uji coba yang telah berlangsung lima hari terkahir, menunjukkan sejumlah evaluasi sebelum benar-benar diterapkan reguler. "Menurut saya lebih banyak kelemahan dibanding ompreng tertutup," ucapnya, Minggu (11/10/2026).

Edi menilai, distribusi MBG model prasmanan dinilai lebih banyak kelemahan. Walaupun makanan yang diterima siswa dalam keadaan hangat. Berbeda dengan model ompreng, menu MBG diterima dalam keadaan dingin. Namun dari sisi kepraktisan, model ompreng lebih praktis bila diadaptasi dalam skala penerima besar.

Baca Juga: Baru Raih 1Poin di 4 Pertandingan, Van Gastel Belum Berani Bicara Target PSIM di Putaran Pertama

Sorotan lain berkaitan dengan skema pengambilan menu. Model prasmanan menunjukkan siswa mengambil sendiri menu MBG ataupun beberapa siswa bertugas sebagai petugas yang membagi porsi MBG. Skema ini menunjukkan kelemahan pada sisi waktu. Lantaran pemorsian MBG dilakukan di sekolah dan siswa melakukan pengambilan makanan relatif lama.

Potensi antrean pengambilan MBG bakal terjadi dan dapat menimbulkan pemborosan waktu. Untuk saat ini antrean tak terlalu panjang. Namun dalam skala penerima MBG ratusan atau ribuan siswa dalam satu sekolah, antrean tak bisa dihindarkan. "Bahkan berpotensi mengganggu pembelajaran, karena waktunya hanya untuk mengambil MBG," ungkapnya.

Edi turut menyoroti potensi kontaminasi makanan akibat proses pengambilan menu oleh siswa. Saat membuka menu dalam wadah prasmanan, terdapat bahaya kontaminasi. Pembagian MBG model prasmanan juga tak menjamin nilai gizi yang diterima anak memadai. Pasalnya, takaran menu akan berbeda-beda walau siswa diperbolehkan menambah porsi makanan.

Baca Juga: Putuskan Downgrade demi Jaga Keuangan; Lebih Sehat Dibanding Andalkan Utang, Paylater, Kartu Kredit

Menurutnya, uji coba MBG model prasmanan perlu dievaluasi. Jika benar-benar diterapkan sebagai model utama, maka skema distribusi harus menjawab persoalan yang ada. Khususnya menjamin proses pembelajaran tak terganggu akibat pembagian makanan.

Sementara itu, Kepala SPPG Polda DIY Suci Rahayu menyampaikan, uji coba model prasmanan berlangsung sejak 5 Oktober 2026 hingga 16 Oktober 2026. Selama proses berlangsung, pihaknya terus melakukan evaluasi pelaksanaan. "Keterlibatan pelajar dalam pembagian MBG untuk melatih kerja sama," ungkapnya.

Suci menjelaskan, MBG prasmanan sengaja menggandeng siswa untuk ikut serta membagikan makanan. Tujuannya, melatih kerja sama tim selama proses pemorsian berlangsung. Penerapannya di sekolah dibuat secara bergantian dengan sistem piket. Dalam sekali pembagian, dibutuhkan lima sampai enam siswa untuk pemorsian. (gas/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Edi Priyono prasmanan Mbg Bumi Binangun Makan Bergizi Gratis