KULON PROGO - Ada yang menarik dalam pelaksanaan pemilihan osis Serentak (Pemilos) di SMAN 2 Wates, pada Kamis (8/10/2026).
Pemungutan suara ketua osis dengan sistem e-voting disambut penuh antusias.
Panitia dan peserta pemilos kompak mengenakan baju adat nusantara.
Kordinator Panitia Pemilihan Organisasi (PPO) SMAN 2 Wates Aji Bagus Saputra menjelasakan bahwa pelaksanaan Pemilos ini kompak digelar di seluruh satuan pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).
Dalam pelaksanaannya, SMAN 2 Wates menggelar pemilos dengan cara unik.
Untuk menarik peserta pemilos, PPO memilih mengenakan pakaian adat daerah.
Sekaligus untuk edukasi, nguri-uri budaya mengenal pakaian adat nusantara.
"Kami cukup antusias, saya meyakini siswa yang lain juga sama," ungkap Aji, sumringah, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: Dituduh Beri Makan Plastik ke Rusa Nara Park, Aksi Dua Turis Indonesia di Jepang Viral
Adapun total daftar pemilih tetap (DPT) sekitar 538 siswa. Mulai dari kelas 10-12.
Meski baru pertama kali merasakan pemilos dengan model e-voting, namun tak menyurutkan peserta memberikan hak suaranya.
Demikian juga sebagian besar panitia baru pertama kali bertugas.
Menurutnya masih perlu banyak yang dipelajari, mengenai proses pemilihan mulai dari sosialisasi hingga perhitungan suara.
Sehingga Pemilos ini menjadi sarana memahami demokrasi yang sering dianggap hanya sebatas pemberian hak suara.
Ini menjadi sarana edukasi demokrasi tidak hanya untuk peserta tetapi juga panitia.
Baca Juga: Port FC vs Persib Bandung di ASEAN Shopee Cup, Igor Tolic: Ini Kompetisi yang Lebih Berat
Dari beragam sosialisasi yang telah dijalankan, pengalaman menjadi PPO memiliki nilai tambah dalam seleksi kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) pada pemilihan umum.
Pemilos di SMAN 2 Wates Digelar Meriah
PPO sengaja mendesain tahapan pemungutan suara semenarik mungkin.
Salah satunya, dengan mengenakan baju adat berbagai daerah.
Aji mencontohkan, dirinya menggunakan baju adat asal Madura, dan beberapa temannya turut menggunakan baju adat lain daerah.
"Inovasi pemilos di sekolah kami, dengan mengenakan baju adat, untuk panitia mengenakan adat dari berbagai daerah," ungkapnya.
Selain baju adat beragam daerah, siswa pemilik hak suara turut mengenakan baju adat gagrak Jogja, yaitu surjan dengan balutan jarik.
Lantaran, pelaksanaan pemilos bersamaan dengan penggunaan surja di Kamis Pon.
Suasana pemilos semakin meriah dengan kekompakan siswa dalam mengenakan baju adat.
Baca Juga: Port FC vs Persib Bandung di ASEAN Shopee Cup, Igor Tolic: Ini Kompetisi yang Lebih Berat
Sementara itu, siswa pemilih hak suara Ahmad Tirta mengaku antusias mengikuti Pemilos di sekolahnya.
Pasalnya, pemilos menjadi ajang yang ditunggu-tunggu dalam menentukan kepemimpinan Osis.
Menurutnya, pemilos berperan krusial dalam menentukan arah kebijakan sekolah.
Pasalnya, kepemimpinan osis akan mempengaruhi kegiatan siswa ke depannya, terutama ekstrakurikuler.
Sehingga, siswa yang memiliki hak suara idealnya memberikan suara di bilik suara.
"Tidak lama, kebetulan saya sudah menentukan pilihan sejak awal," ungkapnya.
Baca Juga: Sempat Terjebak 5 Menit, Penumpang di Lift Manggarai Berhasil Dievakuasi
Selama di bilik suara, Ahmad mengaku tak kesulitan dalam menentukan ketua osis yang dipilih.
Lantaran, dirinya telah mengamati berbagai calon ketua selama proses kampanye dilakukan.
Selain itu, proses pemungutan memudahkan siswa sepertinya yang akrab dengan teknologi.
Sebelum memberikan hak suaranya, siswa akan mengambil token e-voting.
Kemudian token tersebut dimasukkan ke dalam aplikasi.
Dari situlah, pemilih dapat memberikan hak suaranya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva