Harga Cabai Rawit di Pasar Tradisional Kulon Progo Terus Meroket Tembus Rp 70 Ribu Per Kg

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 13:58 WIB
MUSIM TANAM: Petani cabai di Pesisir Trisik melakukan perawatan tanaman yang terancam terkena penyakit. Kini harga cabai rawit di pasar tradisional Kulon Progo terus meroket. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
MUSIM TANAM: Petani cabai di Pesisir Trisik melakukan perawatan tanaman yang terancam terkena penyakit. Kini harga cabai rawit di pasar tradisional Kulon Progo terus meroket. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Harga cabai di pasar tradisional Bumi Binangun terus meroket tembus di angka Rp 70 ribu per kilogram (kg) per Selasa (29/9/2026).

Salah satu faktor penyebab harga bumbu berasa pedas naik itu karena dampak kemarau panjang. 

Sehingga hasil panen di tingkat petani menjadi berkurang.

Seorang pedagang sayur di Pasar Desa Sentolo Waginem mengaku, harga komoditas cabai stabil di harga tinggi di minggu ke empat bulan ini.

Khususnya untuk cabai rawit merah, terus mengalami kenaikan, dari Rp 60 ribu menjadi Rp 70 ribu.

Baca Juga: Diterjang Hujan dan Angin Kencang, Billboard Raksasa di Bandung Ambruk Timpa Tiga Bangunan

Menurutnya, stok kiriman cabai di tingkat petani mengalami penurunan.

"Stok kiriman petani menurun, kemungkinan masa tanam atau penyakit," ungkapnya.

 

Sementara itu Petani cabai asal Kalurahan Karangsewu, Galur, Suyono tak menampik stok cabai di tingkat petani mengalami penurunan, terutama stok cabai petani lokal.

Beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu, memasuki musim tanam. 

Petani cabai di pesisir baru memasuki masa tanam dan sebagian masih berbunga.

Jika mengukur masa tanam, mayoritas pertanian cabai di Kulon Progo memasuk masa panen di pertengahan November atau awal Desember.

"Sekarang belum panen, jadi kebanyakan cabai yang dijual berasal dari luar daerah," ucap Suyono, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: Gunung Semeru Kembali Erupsi, Warga Diimbau Waspada Lahar dan Awan Panas 

Menurut Suyono, harga komoditas cabai yang mulai merangkak naik dianggap wajar. 

Karena belum memasuki masa panen, kebanyakan pasar tradisional kini bergantung pasokan cabai dari Jawa Tengah. 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa prediksi masa panen raya jatuh di akhir tahun.

Kedua, harga cabai naik dikarenakan musim panen yang tidak optimal dampak kemarau panjang.

Menyebabkan buah capai yang juga tumbuh kurang optimal.

Ditambah serangan hama penyakit, seperti kutu atau trip.

"Paling banyak menyerang cabai merah keriting," ungkapnya.

Baca Juga: 20 Ribu Ayam Umur Sepekan Mati Terbakar, Kandang di Gedangsari Gunungkidul Rugi Rp 2 Miliar

Hama penyakit pada cabai dapat menurunkan kualitas hingga kuantitas panen.

Seperti di tahun sebelumnya, kualitas panen mengalami penurunan sebesar 30 persen.

Petani tak bisa menjual panen yang terkena penyakit, karena gampang busuk dan merugikan konsumen.

Kemarau panjang turut membuat sumber air di dekat pesisir tidak mengalir sempurna.

Sumber air harus terus digali lebih dalam paling tidak harus digali lebih dari tujuh meter dari permukaan tanah.  (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
harga cabai rawit di Pasar Tradisional Kulon Progo Harga Cabai Rawit Meroket Pasar Desa Sentolo Kulon Progo cabai rawit