Unik! Krisis Air Bersih di Kulon Progo Paksa Warga Jalani Tradisi 'Sedot Selang'

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 15:49 WIB
COBA: Salah satu Warga Padukuhan Kemaras menyedot selang dari bak penampungan air demi mencukupi kebutuhan. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
COBA: Salah satu Warga Padukuhan Kemaras menyedot selang dari bak penampungan air demi mencukupi kebutuhan. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Musim kemarau panjang memicu krisis air bersih bagi puluhan keluarga di Padukuhan Kemaras, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. 

Demi memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, warga setempat terpaksa mengandalkan tradisi unik berupa 'sedot selang' saat bantuan air bersih tiba.

Dukuh Kemaras, Setyawan, mengungkapkan bahwa ada sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di wilayahnya yang terdampak kekeringan.

Selama ini, warga menggantungkan kebutuhan air untuk memasak dan mandi pada pasokan Pamsimas serta mata air lokal.

Baca Juga: Uis Gara Batak Karo, Kain Tradisional yang Menyimpan Makna Budaya dan Identitas Masyarakat Karo 

Namun, kemarau menyebabkan debit air dari kedua sumber tersebut menurun drastis hingga tidak mampu menjangkau rumah warga.

"Sekarang warga bergantung pada distribusi bantuan air bersih. Jika tidak ada bantuan, warga pasti kebingungan mencari air," ujar Setyawan saat ditemui pada Selasa (15/9/2026).

Untuk bertahan hidup, warga menanti penyaluran bantuan dropping air bersih dari instansi pemerintah maupun pihak swasta.

Bantuan disalurkan rata-rata dua kali dalam seminggu dengan volume sekitar 5.000 liter per penyaluran. Pasokan ini kemudian dibagi untuk sekitar 20 KK dan harus dihemat secara ketat.

Di tengah keterbatasan tersebut, lahir tradisi 'sedot selang' sebagai bentuk adaptasi sosial masyarakat kawasan perbukitan.

Baca Juga: Pagi Selalu Mepet? 6 Ide Sarapan Sehat yang Bisa Dibuat dalam Hitungan Menit dan Sat-set

Saat musim kemarau, bak penampungan komunal kering dan baru terisi kembali jika ada pengiriman bantuan.

Karena tidak menggunakan sistem keran otomatis, warga memanfaatkan prinsip gravitasi untuk mengalirkan air.

Bak penampungan ditempatkan di titik tertinggi.

Warga memasang puluhan selang sepanjang dua meter di bagian atas bak.

Untuk memulai aliran, selang harus disedot menggunakan mulut terlebih dahulu sebelum disambungkan ke pipa permanen yang mengarah ke rumah masing-masing.

"Sistem ini sengaja dibuat agar disedot manual, bukan pakai keran. Kalau menggunakan keran, dikhawatirkan ada warga yang tidak kebagian," jelas Setyawan.

Baca Juga: Pikachu Masuk Dunia Wayang, Pokémon Bawa Budaya Indonesia ke Generasi Muda

Penerapan metode ini bertujuan menjaga pemerataan dan efisiensi air.

Dengan ukuran selang yang seragam, setiap keluarga menerima debit air yang seimbang.

Selain itu, jika ada keluarga yang tidak menyedot selang, mereka dianggap sedang tidak membutuhkan pasokan air.

Salah seorang warga, Tuminem, mengaku sudah terbiasa dengan kebiasaan tersebut.

Meski berusia lanjut, ia selalu siap menyedot selang begitu bantuan air datang.

Di tengah keterbatasan, kebersamaan warga tetap terjaga; mereka saling bantu menyedotkan selang dan tidak pernah tertukar memilih selang milik masing-masing.

"Hanya bisa disedot. Kalau tidak disedot, airnya tidak akan keluar," tutur Tuminem. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Krisis Air Bersih Kulon Progo Tradisi sedot selang Kemaras Bantuan air bersih Pengasih Kekeringan Kulon Progo tradisi unik