KULON PROGO - Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kulon Progo mulai menjadwalkan kunjungan orangtua atau wali murid siswa. Kunjungan dijadwalkan setiap dua minggu sekali.
Selama kunjungan orangtua diperbolehkan membawa makanan ringan untuk disimpan anaknya. Namun, makanan seperti mie instan dilarang, karena beragam alasan.
Wali Asrama SR Terintegrasi 1 Taufik Akbar Yudiantoro menjelaskan, sekolah sengaja menjadwalkan kunjungan agar orangtua dan siswa dapat memiliki waktu untuk bertemu. Sejauh ini, kunjungan baru dibuka kali pertama, dan akan diadakan secara reguler tiap dua minggu sekali.
"Jadwalnya kami rencanakan dua minggu sekali, dimulai pukul 08.00 WIB hingga 12.00 WIB," ucap Yudi, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (23/8).
Yudi menjelaskan, jadwal kunjungan tiap dua minggu sekali terbagi menjadi dua kloter. Kloter pertama, untuk siswi SR yang dilaksanakan pad Sabtu (22/8) lalu.
Baca Juga: Kisah Tukang Becak Desil Sembilan di Kulon Progo, Bingung Sekolahkan Anaknya Karena Dianggap Mampu
Sedangkan kloter kedua dilaksanakan, Minggu (23/8). Pembagian kloter sengaja dilakukan, agar tak banyak kunjungan dalam satu kali kesempatan. Termasuk memberikan pilihan waktu kunjungan, bagi orangtua yang berhalangan hadir pada jadwal yang ditentukan.
Pertemuan antara orangtua dengan anaknya difkuskan di aula sekolah rakyat. Sejak pukul 07.00 WIB, orangtua telah memadati kawasan sekolah, dengan membawa beragam barang bawaan. Pihaknya berharap pertemuan antara orang tua dan anak dimanfaatkan sebaik mungkin. Khususnya mengobati rasa rindu dengan keluarga dan rumah.
"Banyak anak yang home sick, setidaknya dengan jadwal kunjungan bisa mengobati, orangtua juga diperbolehkan membawa makanan rumahan," ungkapnya.
Wali asrama memperbolehkan, sejumlah makanan masuk area asrama. Terutama masakan rumahan buat orangtua, untuk meredakan rasa rindu. Tetapi, terdapat batasan dalam membawakan makanan untuk anak. Makanan seperti mie instan, makanan pedas, hingga berlemak dilarang untuk diberikan. Lantaran, makanan jenis tersebut dapat menyebabkan gangguan pecernaan.
Larangan memberikan makanan mie instan ke anak, terlihat saat sejumlah orangtua menjalani pemeriksaan. Sebelum bertemu dengan anak, orangtua harus menjalani administrasi semacam absen. Kemudian barang bawaan akan diperiksa. Dari situlah, banyak orangtua diketahui membawa mi instan. Makanan yang dilarang untuk sementara waktu akan diitipkan ke petugas, dan dikembalikan ke orangtua saat pulang.
Larangan sejumlah makanan dibawa ke asrama merupakan tindakan pencegahan dari pengelola. Lantaran, masih ada siswa yang nekat mengonsumsi mie instan saat malam hari. Padahal tak ada alat masak yang digunakan untuk memakan mie instan. Kebanyakan siswa memasak mie instan menggunakan air panas dari dispenser. Alhasi, siswa yang nekat mengonsumi mengalami gejala maag.
"Roti, biskuit, sereal masih diperbolehkan," tegasnya.
Sementara itu, Orangtua Yuni Kusumawati asal Kapanewon Temon sengaja menyempatkan diri untuk bertemu dengan anaknya yang bersekolah di SR. Pertemuan dengan anaknya digunakan untuk mengobati rindu, sekaligus memberikan semangat untuk sang anak.
Baca Juga: Angkat Potensi Warga dan UMKM Lokal, Kalurahan Giwangan Adakan Pawai Budaya dan Gelar UMKM
"Ini bawa roti, susu, dan makanan rumahan," ungkapnya.
Yuni mengaku antusias dengan kunjungan. Apabila diperbolehkan untuk usul, kunjungan dapat diperpendek menjadi seminggu sekali. Namun, ia tak mempermasalahkan jika jadwal kunjungan hanya dua minggu sekali. Setidaknya, kunjungan dapat memastikan kondisi anaknya, dan mengirimkan makanan. (gas)
Editor : Bahana.