Warga Banaran Pilih Ngangsu ketimbang Beli Air, Rela Jalan hingga Lima Km ke Perbukitan Menoreh

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 20:51 WIB
Warga Padukuhan Banaran, Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo, rela berjalan kaki dua hingga lima kilometer melewati medan terjal Perbukitan Menoreh untuk mendapatkan air yang dibawa menggunakan jeriken, Rabu (19/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
Warga Padukuhan Banaran, Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo, rela berjalan kaki dua hingga lima kilometer melewati medan terjal Perbukitan Menoreh untuk mendapatkan air yang dibawa menggunakan jeriken, Rabu (19/8). (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

KULON PROGO - Puluhan warga Padukuhan Banaran, Pendoworejo, Girimulyo harus berjalan hingga lima kilometer demi mendapatkan air bersih. Menyusuri tanjakan dan turunan Perbukitan Menoreh, mereka membawa jeriken, galon, hingga ember untuk mengambil air (ngangsu banyu) dari sumber mata air.

Kondisi itu menjadi rutinitas warga setiap musim kemarau. Sebab, akses air bersih melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tak mampu mencukupi kebutuhan warga ketika debit air mulai menyusut. “Debitnya mengecil,” beber Dukuh Banaran Suwardi saat ditemui Radar Jogja Rabu (18/9). 

Dia menyebut, sebanyak 40 kepala keluarga (KK) atau 96 jiwa terdampak kesulitan air bersih setiap tahun saat kemarau. Debit air Pamsimas mengecil sehingga pasokan yang sampai ke rumah warga tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Gap Literasi dan Inklusi Keuangan DIY Masih 22 Persen, OJK Perkuat Edukasi

Kondisi tersebut membuat Pamsimas terkadang hanya dapat mengalir pada siang atau sore hari. Air yang tersedia pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan memasak hingga mandi, cuci, kakus (MCK).

Warga akhirnya mengandalkan sumber air lokal. Setiap pagi atau sore, mereka mendatangi sumur, sendang, maupun sungai yang berada di sekitar kawasan perbukitan. Jerigen dan galon menjadi perlengkapan wajib yang dibawa saat ngangsu banyu.

Jarak sumber air terdekat sekitar dua kilometer dari permukiman. "Tapi kadang debitnya kecil. Kalau diambil banyak orang, pulihnya lama," jelas Suwardi.

Sementara sumber lainnya bisa mencapai lima kilometer. Medan yang harus dilalui tidak mudah karena berupa jalan menanjak dan menurun.

Baca Juga: Program PKL di SMK-SMTI Yogyakarta Dirancang Jadi Jembatan Langsung Bagi Siswa Menuju Dunia Industri

Sebagian warga memilih menggunakan sepeda motor untuk membawa air. Namun, kondisi jalan yang terjal membuat sebagian lainnya harus berjalan kaki.

Menurut Suwardi, warga sudah terbiasa dengan aktivitas ngangsu banyu. Mereka memilih mengambil air langsung dari sumber karena lebih memungkinkan dibandingkan membeli air.

Kendati demikian, dia berharap pemerintah memberikan solusi permanen untuk mengatasi persoalan air bersih yang berulang setiap musim kemarau.

Warga Banaran Ambarsari mengatakan, dirinya rutin mengambil air dari sendang atau sumur yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumah. Setiap pagi atau sore, dia berjalan kaki membawa jeriken berkapasitas 30 liter.

Medan yang terjal membuat perjalanan mengambil air membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Kondisi semakin sulit karena debit sumur juga ikut menurun selama kemarau.

 Baca Juga: PSIM Jogja Belum Berhenti Buru Pemain Lokal demi Bermain di League Cup

Penurunan debit membuat warga harus bergantian mengambil air. Kualitas air juga menurun dan terlihat kurang jernih ketika debit sumber menyusut.

"Pasti ke sini, sebenarnya masih ada sungai di bawah, tapi jauh sekitar lima kilometer," ujar Ambarsari.

Dalam sekali mengambil air, Ambarsari bisa membawa hingga 10 jeriken. Jeriken tersebut diikat menggunakan kain dan dibawa di punggung. Air hasil ngangsu banyu digunakan untuk kebutuhan memasak dan memberi minum ternak.

Bagi warga Banaran, ngangsu banyu bukan lagi sekadar tradisi. Aktivitas itu menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan air bersih ketika kemarau tiba.

Ambarsari berharap, pemerintah membangun instalasi air bersih. Termasuk pompa yang dapat mengalirkan air dari sumber menuju permukiman warga. Dengan begitu, warga tidak perlu lagi menempuh jarak berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan air bersih.

Terbaru, warga setempat mendapatkan bantuan air bersih kemarin (19/8). Warga Banaran Aristin Purnaeni yang ikut mengantre air sejak pukul 09.00 ini mengaku hanya bisa mengandalkan droping karena usianya. Dia pun tak menampik jika masih banyak warga yang rela ngangsu di mata air yang belum mengering. 

Bantuan air bersih yang ditampung ini, lanjutnya, setidaknya mampu mencukupi kebutuhan selama tiga hari ke depan. Perempuan tersebut berharap agar pemerintah memberikan solusi jangka panjang penanganan krisis air bersih.

Sementara itu, Wakil Ketua 2 Baznas Kulon Progo Sugiyanta menjelaskan, 48 ribu liter air bersih akan disalurkan ke delapan titik di wilayah Pendoworejo. Di antaranya menyasar Padukuhan Banaran dan Krikil. Puluhan ribu liter air tersebut akan dimanfaatkan untuk 200 KK selama seminggu ke depan. (gas/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
padukuhan banaran ngangsu banyu kemarau Perbukitan Menoreh sumber mata air