Garis Pantai Mundur, Abrasi Pantai Trisik Kulon Progo Terancam Gulung Pemukiman dan Sentinel Cabai

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:11 WIB
PARAH: Garis Pantai Trisik terus terkikis, Personel Satlinmas Resceu menunjukkan dampak abrasi. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
PARAH: Garis Pantai Trisik terus terkikis, Personel Satlinmas Resceu menunjukkan dampak abrasi. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO – Laju abrasi di Pantai Trisik, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo kian mengkhawatirkan. 

Dalam kurun sepuluh tahun terakhir, garis pantai tercatat mundur hingga 50 meter ke arah utara.

Kondisi kritis ini tak hanya mengikis daratan, tetapi mulai mengancam kawasan pemukiman warga serta keberlangsungan lahan pertanian pesisir.

Panewu Galur, Saryono, membenarkan terjadinya peningkatan laju abrasi secara drastis di wilayahnya.

Berdasarkan data lapangan, pengikisan daratan oleh gelombang laut mencapai dua hingga lima meter setiap tahunnya.

Baca Juga: DONE DEAL! Trevoh Chalobah Tinggalkan Chelsea, Resmi Gabung Como Bersama Cesc Fabregas

"Untuk saat ini, langkah yang bisa kami lakukan terbatas pada imbauan agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi abrasi lanjutan," ujar Saryono saat meninjau lokasi kawasan pesisir Trisik, Rabu (12/8/2026).

Saryono menjelaskan, upaya mitigasi berbasis lingkungan, seperti penanaman mangrove, pandan laut, hingga pohon cemara udang, belum mampu membendung gempuran gelombang tinggi Samudra Hindia. 

Menurutnya, solusi permanen untuk menahan erosi pantai adalah pembangunan struktur pemecah ombak (breakwater), layaknya yang terpasang di Pantai Glagah.

Namun, pembangunan fasilitas tersebut membutuhkan anggaran yang sangat besar dan berada di bawah kewenangan kementerian terkait.

Baca Juga: PSG Ingin Awali Musim 2026/2027 dengan Dua Trofi, UEFA Super Cup dan Trophee Des Champions

"Pemecah ombak sangat efektif meredam energi gelombang sekaligus menangkap sedimentasi pasir. Ini kebutuhan mendesak karena dampaknya sudah mengancam pemukiman dan sumber penghidupan warga," tegasnya.

Ancaman tersebut dirasakan langsung oleh warga setempat.

Sudarsih, salah seorang pedagang di Pantai Trisik, mengungkapkan bahwa deretan kios yang dahulu berjarak puluhan meter dari bibir pantai kini mulai tergerus.

Bahkan, gelombang tinggi sempat menerjang bangunan kios miliknya pada Selasa (11/8/2026).

"Dahulu posisi warung saya paling belakang, ada sekitar 12 kios di depan saya. Sekarang garis pantai sudah sampai persis di depan kios ini," tuturnya.

Baca Juga: Roberto Martinez Jadi Kandidat Kuat Pelatih Baru Belanda, KNVB Mulai Buka Negosiasi

Dampak tak kalah serius mengintai sektor pertanian.

Giyanto, warga yang berprofesi sebagai nelayan sekaligus petani, menyebut abrasi mengancam intrusi air asin ke sumur-sumur irigasi.

Jika air tanah tercemar salinitas tinggi, komoditas cabai yang menjadi andalan petani pesisir dipastikan gagal panen.

Padahal, kawasan pesisir Pantai Trisik merupakan salah satu penopang dan penyangga pasokan cabai skala nasional.

Tanpa adanya penanganan fisik yang konkret dari pemerintah pusat, warga khawatir kawasan pesisir Trisik tak hanya kehilangan mata pencaharian, tetapi juga tenggelam dari peta wilayah. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
Garis Pantai Mundur Gulung Pemukiman Sentinel Cabai pantai trisik Kulon Progo