KULON PROGO - Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara program makan bergizi gratis (MBG) selama musim libur sekolah.
Kondisi ini, ternyata berpengaruh pada harga pangan di pasaran, utamanya komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan.
Pedagang Sayur dan Buah di Pasar Wates Amios Jalu mengaku penurunan harga terjadi semenjak libur sekolah, sepekan lalu.
Saat itu, harga komoditas sayur langsung turun drastis.
"Tanpa aba-aba, tidak bertahap, langsung drastis gitu," ucap Jalu, saat ditemui Radar Jogja, Senin (29/6).
Hal ini membuat para pedagang kaget.
Baca Juga: Stok Nasional Tembus 5,1 Juta Ton, Mentan Amran Tawarkan Ekspor 10 Ribu Ton Beras ke Singapura
Jalu menjelaskan, penurunan harga didominasi pada komoditas sayur mayur.
Rata-rata penurunan harga mencapai 70 persen.
Misalnya, kembang kol, yang awalnya dibanderol Rp 30 ribu per kilogram (kg) kini mengalami penurunan hingga Rp 5 ribu.
Termasuk sayur brokoli yang awalnya Rp 30 ribu kini hanya Rp 15 ribu.
Komoditas telur turut mengalami penurunan sebesar Rp 5 ribu.
Harga rata-rata telur biasanya Rp 26 ribu per kilogram kini, hanya Rp 21 ribu.
Baca Juga: Warga Minta Dukuh Bayon Dicopot, Diduga Lakukan Penggelapan Sertifikat
"Harga telur mengalami penurunan sejak dua bulan terakhir. Terparahnya akhir bulan Juni ini," bebernya.
Jalu mengaku, harga dari distributor memang mengalami penurunan.
Apalagi jika sayur langsung mengambil dari petani, penurunan harga sangat terasa semenjak program MBG diliburkan.
Tingkat konsumsi sayuran seperti brokoli, kembang kol, hingga buncis mengalami penurunan.
Sementara suplai sayur cenderung stabil.
Menurutnya, harga sayuran sangat bergantung dengan program MBG.
Karena banyak SPPG mengambil sayur langsung dari distributor sehingga mempengaruhi harga di tingkat pasar.
Penurunan harga komoditas sayur ini, diklaim menggairahkan pasar kembali seperti semula.
Lantaran, harga sayur yang relatif terjangkau membuat masyarakat menaikkan jumlah pembelian.
Sehingga, keuntungan pedagang turut bertambah.
Hal serupa juga diungkapkan pedagang daging ayam di Pasar Wates Ketut Ikasih.
Harga daging ayam mengalami penurunan sebesar Rp 5 ribu.
Di awal Juni lalu, harga daging ayam sempat menginjak Rp 35 ribu, kini turun drastis menjadi Rp 30 ribu.
"Turun drastis, efek MBG libur," ucapnya.
Jalu juga menilai, program MBG yang diliburkan membuat pasokan daging ayam lebih lancar.
Pedagang dapat memenuhi stok daging untuk dijual tanpa harus berebut dengan dapur MBG.
Baca Juga: Pukul 06.00, Mentan Amran Kumpulkan Civitas Akademika UGM, Percepat Inovasi dan Hilirisasi Pertanian
Pihaknya memprediksi, daging ayam akan kembali naik saat program MBG berjalan kembali.
Pedagang yang telah berjualan sejak 1997 ini berharap agar ada penyesuaian program MBG sehingga bisa memberikan dampak luas termasuk pedagang kecil.
Harapan agar MBG disesuaikan demi harga bahan pokok yang terjangkau juga disampaikan ibu rumah tangga Endang Sri Widarti.
Dia menyambut baik penurunan harga aneka sayur karena lebih ekonomis, menghemat pengeluaran hingga belasan ribu rupiah.
"Saya kan juga buka warung makan, jadi kalau harga turun bisa hemat pengeluaran," ungkapnya.
Perempuan asal Kapanewon Wates itu, berharap pemerintah bisa menstabilkan harga pangan seperti waktu ini.
Menurutnya, harga pangan saat MBG libur lebih mudah dijangkau masyarakat. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva