Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dispertapa Kulon Progo Imbau Petani Efisiensi Penggunaan Pupuk

Anom Bagaskoro • Jumat, 26 Juni 2026 | 15:53 WIB
MAHAL: Petani di Kalurahan Srikayangan membeli pupuk non subsidi untuk tanaman bawang merah. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
MAHAL: Petani di Kalurahan Srikayangan membeli pupuk non subsidi untuk tanaman bawang merah. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo mengimbau agar petani melakukan efisiensi penggunaan pupuk nonsubsidi, seiring kenaikan harga selama tiga bulan terakhir.

Kepala Dispertapa Kulon Progo Trenggono Trimulyo menjelaskan, meski petani Kulon Progo telah menerima penyaluran pupuk subsidi. 

Namun, kebutuhan pertanian terhadap pupuk nonsubsidi kerap menjadi tambahan nutrisi tanaman. 

Terutama untuk pertanian holtikultura.

Baca Juga: Genjot Kualitas, 7.500 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kini Sudah Kantongi Sertifikat Halal

"Harga pupuk nonsubsidi mengalami kenaikan, kami menghimbau agar petani bisa melakukan penyesuaian," ucap Trenggono, Jumat (26/6/2026).

Trenggono mewanti-wanti agar petani mengantisipasi bilamana terjadi kenaikan harga pupuk nonsubsidi.

Caranya, dengan menghemat konsumsi pupuk melalui teknik efisiensi hara.

Efisiensi hara dilakukan dengan mengurangi jumlah konsumsi pupuk dalam satu lahan.

Teknik efisiensi hara ini, biasanya telah dikenal petani di Kulon Progo.

Metode yang kerap digunakan ialah melarutkan pupuk padat ke air, atau sering disebut metode kocor.

Baca Juga: Turun Jabatan, Ansyari Lubis Kembali Jadi Asisten Pelatih untuk Musim 2026/2027

Normalnya, penggunaan pupuk disebar dalam bentuk padat.

Namun, metode kocor memastikan pupuk padat terlarut dalam air.

Sehingga tanaman akan langsung mendapatkan nutrisi  tambahan.

"Metode kocor memastik serapan nutrisi ke tanaman lebih efektif dan tidak terbuang sia-sia," ucapnya.

Selain mendorong efisiensi penggunaan pupuk, Trenggono berharap petani Kulon Progo mengimbangi antara penggunaan pupuk buatan pabrik dan pupuk organik.

 

Pasalnya, penggunaan pupuk pabrikan berpotensi menurunkan tingkat kesuburan tanah.

Pupuk organik dapat memanfaatkan kotoran hewan yang diolah melalui fermentasi.

Baca Juga: Manajemen Buka Suara soal Penyalaan Kembang Api di Candi Prambanan

Selain itu, sisa panen juga dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kesuburan tanah.

Misalnya, jerami untuk yang digunakan kembali untuk biomassa yang dapat memperbaiki struktur tanah pertanian.

Sementara itu, petani bawang merah Kalurahan Srikayangan Sentolo Maryoto mengeluhkan kenaikan harga pupuk nonsubsidi.

Untuk kebutuhan bawang merah, Maryoto menggunakan pupuk NPK asal Rusia.

Selama tiga bulan terakhir, pupuk tersebut mengalami lonjakan harga secara bertahap.

Hingga kini harga pupuk NPK Rusia mencapai Rp 755 ribu per karung isi 50 kilogram.

"Sekarang belinya ngecer, kalau harga sebelumnya kisaran Rp 640 ribu masih terjangkau," ungkapnya. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Efisiensi Penggunaan Pupuk #pertanian holtikultura #pupuk nonsubsidi #Dispertapa Kulon Progo #Petani Kulon Progo