KULON PROGO - Dinas Kebudayaan Kulon Progo kembali menggelar Festival Kethoprak 2026.
Festival Kethoprak yang diikuti 12 kontingen kapanewon itu, mengangkat tema besar Mataram Pasca Perjanjian Giyanti.
Tema itu menjadi simbol sejarah yang dikemas menjadi seni tradisi.
Kepala Dinas Kebudayaan (Dinbud) Kulon Progo Joko Mursito menjelaskan, festival merupakan agenda rutin setiap tahun.
Festival Kethoprak menjadi wadah generasi muda untuk mengekspresikan diri sekaligus menjaga tradisi.
Baca Juga: Sosialisasi Regrouping SD di Kokap Kulon Progo Mendapat Respon Penolakan
Lantaran, di era modern gempuran tontonan dari luar negeri mulai menjamah anak muda. Padahal tonton lokal seperti ketoprak memiliki dampak luas ke masyarakat.
"Kethoprak tidak hanya tontonan, tetapi tuntunan," ucap Joko, Kamis (25/6/2026).
Joko menjelaskan, Festival Kethoprak 2026 berlangsung 24-25 Juni dan diikuti 12 kontingen kapanewon.
Setiap kapanewon harus menerjunkan kontingen sendiri.
Setiap kontingen dibatasi waktu penampilan sejumlah 30 hingga 35 menit.
Di samping itu, setiap kontingen hanya boleh mengirimkan 25 orang yang berisi dari pemain hingga pengrawit.
Baca Juga: Harga Gas Industri Naik Memicu Ancaman PHK, Bahlil: Kami Cari Formulasi Harga Terjangkau
Pembatasan waktu hingga jumlah peserta sengaja dilakukan.
Tujuannya, melatih setiap kontingen untuk memproduksi penampilan secara profesional.
Lantaran, pertunjukan ketoprak tak hanya urusan akting.
Lebih jauh dari itu, terdapat unsur tata rias, busana, properti, hingga konsumsi yang harus dipenuhi.
Selain aturan ketat itu, Dinbud Kulon Progo juga memastikan penampilan ketoprak harus sesuai tema besar, yaitu Mataram Pasca Perjanjian Giyanti.
Tema tersebut tak sekedar membatasi penampilan, tetapi memiliki tujuan tertentu.
Baca Juga: Ronald Koeman Puji Perkembangan Ryan Gravenberch: Dia Berkembang Pesat
Tema itu memiliki nilai sejarah tinggi, yang mengarahkan penonton untuk tak lupa akan sejarah.
Penonton dapat melihat gambaran Mataram pasca Perjanjian giyanti melalui beberapa lakon.
Di antaranya, Mataram di era HB I, Meletusnya Geger Sepehi, hingga Babad Alas Pabringan.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menjelaskan, Festival Kethoprak adalah agenda rutin yang dilakukan oleh seluruh kabupaten kota di DIY.
Tujuannya, menjaring seniman lokal berbakat, sekaligus menjadi wadah seniman untuk tampil.
"Kegiatan ini merupakan sarana mencari pelaku seni dan nguri-nguri kabudayan," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva