Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ponirin, Pioner Teknologi Bidang Produksi Tahu di Kulon Progo; Hapus Stigma Bau dan Kotor, Produksi Mampu Tingkatkan Hasil Produks

Anom Bagaskoro • Senin, 8 Juni 2026 | 21:57 WIB
PRODUKSI: Pengrajin tahu di Kalurahan Tuksono mencetak tahu dengan alat pres lalu dipotong menjadi beberapa bagian. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
PRODUKSI: Pengrajin tahu di Kalurahan Tuksono mencetak tahu dengan alat pres lalu dipotong menjadi beberapa bagian. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

KULON PROGO - Produksi tahu identik dengan lantai basah, kotor, asap mengepul, hingga bau tak sedap dari limbah ampas kedelai. Namun, hal ini tak akan terlihat di rumah produksi tahu milik Ponirin di Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo. Rumah produksinya dilengkapi teknologi sederhana dan terapan untuk menghapus stigma masyarakat. 

 

Kalurahan Tuksono merupakan sentra penghasil tahu di Kulon Progo. Total 200 keluarga bergantung hidup dari industri tahu secara turun temurun. Dari data itu, ada satu produsen tahu yang memiliki rumah produksi berukuran kecil tetapi mampu memproduksi puluhan ribu tahu setiap harinya.

Baca Juga: SPMB Lingkungan Madrasah di Kebumen Berbeda dengan Sekolah Umum: Tak Kenal Zonasi, Bisa Tampung Siswa dari Luar


Rumah produksi tahu yang terletak di Padukuhan Wonobroto ini dimiliki Ponirin. Walau sedikit kecil, rumah produksi itu sama sekali tak pengap. Lantai pada percetakan tahu juga cenderung kering dan jauh dari bau tak sedap.
"Kami di sini menerapkan teknologi sederhana, khususnya peningkatan kualitas, produksi, hingga kebersihan," ucap Ponirin, Minggu (7/6).


Penggunaan teknologi dalam produksi tahu telah diterapkannya sejak 16 tahun lalu. Sebelumnya, ia merupakan penerus usaha tahu dari orangtuanya. Saat itu, produksi tahu masih tradisional. Mulai perebusan kedelai, penghalusan hingga pencetakan tahu dilakukan secara manual.

Baca Juga: DPRD Gunungkidul Awasi Tahapan Pilur Serentak di 31 Kalurahan, Regulasi Teknis Masih Difinalisasi


Hal itu menyebabkan produksi tahu tak bisa berjalan secara optimal. Lantaran, biasanya rumah produksi gelap karena tertutup asap. Termasuk keadaan lingkungan kerja kurang bersih. Terlebih, muncul bau tak sedap dari limbah tahu.


Melihat kondisi itu, Ponirin tak mau berpangku tangan. Sejak memulai usahanya tahun 2010 lalu, ia mulai mengubah konsep produksi tahu. Ia sengaja mendesain hingga memesan alat khusus untuk produksi. 

Baca Juga: Reaktivasi Bandara Adi Sucipto Dikhawatirkan Ganggu Ekosistem Pariwisata


Alat produksi tahu langsung diremajakan, mulai dari boiler perebus, hingga alat pencetak. "Kalau dulu manual, cetakan ditimpa batu, sekarang sudah pakai mesin hidrolik," ungkapnya.


Penerapan teknologi dapat dilihat dari alat boiler yang memanfaatkan uap untuk merebus dan memasak sari kedelai. Uap hasil boiler juga digunakan untuk tenaga hidrolik yang digunakan untuk penekanan dan mencetak tahu. 


Selain alat itu, Ponirin mendesain saringan statis dengan tenaga mesin untuk menyaring sari tahu. Langkah terobosan ini mampu mendongkrak produksinya hingga dua kali lipat. Dengan teknologi dan 12 pekerjanya, setiap hari mampu mengolah lima kuintal kedelai. Padahal sebelumnya hanya 2 kwintal. 

Baca Juga: TPS3R dan Bank Sampah  Didorong Mengolah Limbah Sisa MBG


Teknologi juga membuat lingkungan kerja bersih dan membuat hasil tahu lebih higienis. Selain penerapan teknologi, rumah produksinya dilengkapi instalasi pengelolaan limbah. Limbah dari produksi tahu yang tak bisa digunakan untuk pakan ternak masuk ke ruang kedap udara. 


Limbah itu menjadi bagian dari bahan bakar biogas. Lantaran, IPAL dilengkapi alat pembuat biogas yang disalurkan ke ruang pemasak atau penggoreng tahu setengah matang.

Baca Juga: Pameran Mata Hati Soekarno Libatkan 47 Perupa Lintas Generasi, Jadi Ruang Membaca Kembali Warisan sang Proklamator


Berkat inovasinya, rumah produksi tahu Ponirin menjadi langganan kunjungan. Bahkan pesanan tahu meningkat berkat kunjungan itu. Kini ia melayani beberapa SPPG di Kulon Progo, termasuk penjualan di beberapa pasar di Jogja hingga Jateng.


Hasil yang memuaskan itu lantas disebarkan ke produsen tahu di daerahnya. Ponirin tak mau hanya dia saja yang sukses. Kini metodenya telah diterapkan di sebagian produsen tahu di Sentolo. (gas/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#produksi #teknologi #limbah #stigma