Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga LPG Non Subsidi Terus Mengalami Kenaikan, Agen Sebut Efek Dolar AS Tembus Rp 17 Ribu

Anom Bagaskoro • Senin, 18 Mei 2026 | 17:07 WIB
HARGA NAIK: Petugas Agen Gas Non Subsidi menurunkan LPG ke pangkalan gas di Kalurahan Bendungan.  Harga Gas Non Subsidi naik efek dolar AS terhadap rupiah melonjak. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
HARGA NAIK: Petugas Agen Gas Non Subsidi menurunkan LPG ke pangkalan gas di Kalurahan Bendungan. Harga Gas Non Subsidi naik efek dolar AS terhadap rupiah melonjak. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

 

KULON PROGO - Melemahnya rupiah atas dolar ternyata mulai dirasakan masyarakat luas.

Pasalnya, semenjak dolar menembus Rp 17 ribu harga komoditas LPG non subsidi mengalami kenaikan drastis.

Alhasil, masyarakat kalangan menengah dan usaha kecil semakin terhimpit.

Baca Juga: Cara Terbaik Menyimpan Instagram Reels Tanpa Kehilangan Kualitas

Pemilik Pangkalan LPG Kalurahan Bendungan Yanuardani menjelaskan, kenaikan LPG non subsidi telah terjadi sejak April 2026, bertepatan dengan kenaikan harga BBM.

Kenaikan kembali terjadi setelah melemahnya rupiah terhadap dolar.

"Memang sejak April sudah naik perlahan, tapi juga dipengaruhi oleh dolar juga," ucap Dani, saat ditemui Radar Jogja di pangkalannya, Senin (18/5/2026).

Kenaikan harga LPG non subsidi dipengaruhi oleh konflik timur tengah yang menyebabkan terhambatnya pasokan gas dan BBM dunia.

Baca Juga: Penggantian TKD Kalurahan Glagah dan Kalurahan Palihan di Kulon Progo Tertunda, Pergub DIY Nomor 24 Tahun 2024 Dinilai Multitafsir

Di samping itu, melemahnya rupiah semakin memicu kenaikan pada komoditas minyak dan gas bumi.

Dani menyampaikan, kenaikan harga LPG non subsidi berkisar Rp 20 ribu untuk ukuran 5 kilogram dan Rp 30 ribu untuk ukuran 12 kilogram.

Di situasi normal harga LPG non subsidi ukuran 12 kilogram dihargai Rp 195 ribu, kini menjadi Rp 235 ribu.

Hal serupa juga terjadi pada ukuran LPG 5 kilogram dari yang sebelumnya Rp 90 ribu menjadi Rp 110 ribu.

"Mulai terasa dampaknya, banyak warga menengah hingga rumah makan mengeluh," ungkapnya.

Baca Juga: Prediksi Arsenal vs Burnley Premier League Selasa 19 Mei 2026 Kick Off 02.00 WIB, Tekad The Gunners Restorasi Keunggulan di Puncak

Dani menyampaikan, masyarakat kalangan menengah dilarang menggunakan LPG subsidi, kebanyakan dari mereka akhirnya berlangganan gas non subsidi.

Namun, kenaikan harga yang tinggi dikeluhkan oleh masyarakat.

Utamanya, pedagang makanan seperti restoran yang diwajibkan menggunakan LPG.

Kenaikan harga LPG non subsidi menyebabkan keuntungan mereka semakin tipis. 

Kebanyakan kelompok pengguna non subsidi kebingungan mencari bahan bakar alternatif.

Baca Juga: Persib Bandung Unggul Dua Poin di Puncak Klasemen BRI Super League, Igor Tolic: Mari Kita Tuntaskan Perjuangan untuk Gelar Juara

Mengingat LPG subsidi dilarang diperjualbelikan ke sektor perdagangan dan masyarakat kelas menengah hingga ke atas.

Dampak kenaikan harga LPG non subsidi turut menurunkan penjualan pangkalan gas.

Biasanya dalam sebulan, pangkalan gasnya mampu menjual 30 tabung LPG ukuran 12 kilogram.

Namun, sebulan terakhir penjualannya mentok di 10 tabung per bulan.

Baca Juga: Rupiah Semakin Melemah, Dolar AS Melambung "Hidup Segan Mati Enggan"

"10 tabung per bulan itu sudah berat, sekarang tidak berani stok tabung banyak," ungkapnya.

Kendati LPG non subsidi mengalami kenaikan harga, LPG subsidi masih di harga yang sama Rp 18 kilogram per tabung. 

Kenaikan harga tak mempengaruhi LPG subsidi, karena mendapatkan suntikan dari pemerintah pusat. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#LPG non subsidi #Kulon Progo #dolar as #harga #kenaikan