Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tinggal Hanya Berjarak 600 Meter dari Bibir Pantai, Warga Pesisir Kulon Progo Khawatir Isu Megathrust

Anom Bagaskoro • Minggu, 17 Mei 2026 | 21:23 WIB
Warga Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, Kulon Progo, Sugeng Ahmadi. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
Warga Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, Kulon Progo, Sugeng Ahmadi. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 

RADAR JOGJA - Isu megathrust atau gempa berskala besar kembali menyeruak di tahun ini. Pulau Jawa khususnya DIJ merupakan wilayah terdampak jika megathrust benar-benar terjadi. Terutama bagi masyarakat pesisir selatan Kulon Progo, megathrust akan disambut dengan isu gelombang tsunami puluhan meter. Hal ini menjadi kekhawatiran masyarakat pesisir.


Salah seorang warga Kalurahan Karangsewu Sugeng Ahmadi mengaku kekhawatirannya atas isu megathrust. Pasalnya, kediamannya terletak sekitar 600 meter dari bibir pantai. Termasuk lahan pertanian yang dia garap hanya berjarak 100 meter dari pantai. "Tentu khawatir, jarak rumah cuma 600 meter," ucap Sugeng saat ditemui Radar Jogja di lahan pertaniannya, Jumat (24/4).


Sugeng menyampaikan, informasi dampak dari megathrust telah diketahuinya. Hampir setiap tahun isu itu selalu muncul yang membuat dirinya mengulik sendiri informasi. Informasi yang dikumpulkan menunjukkan megathrust tak hanya meluluhlantahkan bangunan rumah tinggal. Tetapi turut menimbulkan bencana tsunami.

Baca Juga: Kulinerun Diikuti Seribu Peserta Menyajikan Keindahan Landscape Kulon Progo


Informasi yang ia peroleh membuat dirinya semakin khawatir. Namun karena setiap tahun isu tersebut muncul, ia hanya menganggap sebagai sekadar pengingat. Keluarganya memutuskan untuk tidak terlalu khawatir dan tetap menjalani keseharian seperti biasanya. "Kalau dibayangkan pasti takut, tapi tetap harus kerja, tetap harus berkegiatan seperti sehati-hari," ungkapnya.


Walau terlihat pasrah dengan isu itu, Sugeng tak mau berpangku tangan. Ia menjadi masyarakat yang rutin mengikuti simulasi kebencanaan. Setiap tahun minimal sekali keluarganya mengikuti simulasi kebencanaan tsunami dan gempa bumi. Seperti tahun lalu, simulasi kebencanaan diselenggarakan lembaga internasional.

Baca Juga: Darurat Miras, AMM dan GMNU Kulon Progo Bersatu Mendesak Pelarangan Total


Menurutnya, simulasi cukup penting dalam mengurangi risiko dampak kebencanaan. Lantaran dari simulasi gambaran bencana akan dilihat. Dengan gambaran yang sedikit, ia dapat memastikan langkah penanganan saat bencana terjadi. Seperti menyelamatkan diri dari hantaman bangunan roboh hingga golden time penyelamatan tsunami. "Masyarakat pesisir juga sadar sudah banyak yang menanam cemara udang dan pandan laut," ungkapnya.


Sugeng menjelaskan, masyarakat pesisir Pantai Trisik dan sekitarnya telah membuat gerakan kolektif. Masyarakat melakukan penanaman pohon cemara udang dan pandan laut. Penanaman dilakukan untuk meredam kekuatan gelombang tsunami. 


Walau sudah menjalankan mitigasi kolektif, warga sepertinya tetap khawatir. Di daerahnya, infrastruktur penunjang mitigasi tak tersedia. Bahkan jembatan Pantai Trisik masih dalam proses rehap. Di samping itu, wilayahnya dikepung sungai. Alhasil saat evakuasi, jalur di atas sungai menjadi bom waktu. (gas/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#bencana tsunami #gempa bumi #pulau jawa #megathrust #masyarakat pesisir