Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Efek Wabah PMK Tahun Lalu Jadi Penyebab Harga Hewan Kurban di Kulon Progo Naik

Anom Bagaskoro • Minggu, 10 Mei 2026 | 13:47 WIB
SEPI: Penjual dan Pembeli hewan kurban di Pasar Hewan Kulon Progo tak memenuhi los yang ada. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 
SEPI: Penjual dan Pembeli hewan kurban di Pasar Hewan Kulon Progo tak memenuhi los yang ada. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 

 KULON PROGO - Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang merebak tahun lalu masih berdampak hingga tahun ini. Dampaknya berupa kenaikan harga hewan kurban terutama sapi menjelang Idul Adha.

Salah satu peternak dan penjual hewan kurban Sadino menjelaskan, dampak PMK masih terasa hingga sekarang. Walau temuan kasus di Bumi Binangun cenderung sedikit, efek PMK tahun lalu berdampak ke harga hewan kurban sekarang.

"Ternak sapi di masyarakat cenderung turun, karena merebak wabah PMK," ucap Sadino, Minggu (10/5).

Sadino menyampaikan, banyak peternak kecil dan besar memilih mengurangi stok hewan saat PMK tahun lalu. Akibatnya, hewan ternak khususnya sapi dengan ukuran untuk kurban sulit didapatkan. Hal serupa juga terjadi di beberapa daerah sentra produksi hewan potong.

Baca Juga: Bojan Hodak: Kami Datang Dengan Harapan Meraih Kemenangan

Jumlah stok yang sedikit, menyebabkan kenaikan harga tak terhindarkan. Sapi dari daerah Gunungkidul, dan Madura turut mengalami kenaikan. Rata-rata kenaikan berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

"Naiknya lumayan, dari tahun sebelumnya Rp 21 juta sekarang jadi Rp 23 juta," ucapnya.

Kebanyakan masyarakat mencari sapi ukuran sedang dengan anggaran di bawah Rp 25 juta. Padahal untuk ukuran sedang dengan anggaran Rp 25 juta sulit ditemukan. Pihaknya merasa kesulitan memasarkan sapi di Kulon Progo. Alhasil, kebanyakan sapi yang ada didistribusikan ke Kebumeb dengan harga yang lebih kompetitif.

Menurutnya, kenaikan harga hewan kurban sapi berdampak ke menurunnya minat pembeli. Di tahun lalu, Sadino mampu menjual 30 ekor sapi hanya dari membuka lapak di Pasar Hewan Kulon Progo. Namun, tahun ini penjualannya menurun dan diprediksi hanya mampu menjual belasan ekor saja.

Baca Juga: Penampakan Rumah di Pakem, Sleman, yang Jadi Tempat Penampungan Sebelas Bayi Sudah Kosong

"Bisa dilihat sendiri sepi, padahal tahun lalu jelang Idul Adha los pasar penuh," ungkapnya.

Selain sepi peminat, penjualan ternak juga tak banyak dilirik pedagang atau peternak. Hal ini dibuktikan dengan perdagangan hewan kurban di Pasar Hewan Kulon Progo. Hanya satu los sapi dari lima los yang terlihat aktivitas perdagangan.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Yuriati menjelaskan, tak ada temuan PMK pada Mei 2026. Kasus PMK terakhir kali muncul pada Januari 2026, itupun dapat dikendalikan.

"Terakhir Januari 91 kasu, dan itu semua bisa disembuhkan," ungkapnya. (gas)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kurban sapi #Kulon Progo #penyakit antraks #hewan kurban #Penyakit Mulut dan Kuku