KULON PROGO - Calon jamaah haji (CJH) asal Gunungkidul memiliki cara unik dalam mengenali sesama rombongan.
Mereka kompak mengenakan blangkon sebagai warisan budaya sekaligus tanda pengenal.
"Semua jamaah laki-laki dari rombongan kami menggunakan blangkon, total 101 orang," ucap Ketua Rombongan KBIHU Muslimat NU Darul Quran Saban Nuroni, saat ditemui Radar Jogja di Embarkasi YIA, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: Anggaran Perbaikan Jalan Kabupaten Ditambah, Bupati Kulon Progo Sebut Bom Waktu
Rombongan yang kenakan blangkon itu terdiri dari rombongan 7, 8 dan 9 Kloter 10 YIA.
Seluruh calon jamaah haji asal rombongan tersebut berasal dari Kabupaten Gunungkidul.
Ratusan calon jamaah haji sengaja mengenakan blangkon, saat di embarkasi hingga ke Tanah Suci nanti.
Pemakaian blangkon digunakan saat event besar, kecuali saat menggunakan ihram.
Lantaran, dalam rukun haji terdapat larangan terutama menggunakan blangkon atau penutup kepala.
Baca Juga: Mario Lemos Optimis Persijap Jepara Mampu Taklukkan Persija Jakarta di Stadion Gelora Bumi Kartini
Penggunaan blangkon sebagai penutup kepala bukan tanpa sebab.
Kebiasaan yang muncul dari belasan tahun ini, berawal dari kebingungan mencari rekan sesama rombongan.
Saat ibadah haji dalam kerumunan ataupu aktivitas di luar ruangan jamaah haji sering tersesat dan mencari rekan sesama rombongan.
"Saat dalam kerumunan besar di Mekah dan Madinah kami ingin mencari sesama rekan rombongan dengan cepat," ungkapnya.
Potensi jamaah keseulitan mencari rekan ini membuat diperlukannya tanda pengenalan yang mudah terlihat.
Alhasil, munculah ide penggunaan blangkon sebagai penutup kepala dan tanda pengenal.
Blangkon dengan keunikan tersendiri dan dipakai di atas kepala memastikan sesama rekan rombongan dapat melihat atau mengenali.
Selain tanda pengenal, jamaah haji asal Gunungkidul turut serta mewariskan budaya.
Lantaran, blangkon mulai ditinggal dan hanya keluar di momen tertentu.
Padahal blangkon erat kaitannya dengan persebaran Agama Islam di Tanah Jawa.
Baca Juga: Penuhi Undangan Pamitan Haji Suami Istri di Mlati Sleman, Puluhan Orang Justru Jadi Korban Keracunan
"Blangkon ini kan ada wirunya di atas 17 lipatan, menandakan jumlah rakaat sholat selama sehari," ungkapnya.
Kekompakan menggunakan blangkon juga muncul akibat kenyamanan pemakaian.
Blangkon menghangatkan kepala dan tak membatasi ibadah sholat.
Pasalnya, bentuk blangkon tak menutup bagian dahi. Alhasil syarat sah sholat dapat terpenuhi.
Sementara itu, Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi YIA Jauhar Mustofa membenarkan, setiap tahunnya jamaah haji asal Gunungkidul selalu mengenakan blangkon.
Baca Juga: Tottenham Hotspur Keluar dari Zona Degradasi Setelah Taklukkan Aston Villa di Villa Park
Penggunaan blangkon juga dinilai tak menyalahi aturan.
"Boleh tidak apa-apa, dari keimigrasian juga diperbolehkan," ungkapnya.
Jauhar menjelaskan, penggunaan atribut blangkon mirip seperti peci.
Sehingga, penggunaan tak dibatasi.
Justru penggunaan blangkon menjadi identitas tersendiri, khususnya sebagai tanda pengenal antar sesama rombongan.
Secara syariat penggunaan blangkon atau penutup kepala juga diperbolehkan dalam waktu-waktu tertentu.
Baca Juga: Sam Kerr Resmi Menjadi Pencetak Gol Terbanyak Sepanjang Masa Chelsea di WSL
Sebagai contoh, penggunaan blangkon dilarang saat jamaah melakukan tawaf dan menggunakan ikhram.
Aturan ini, juga berlaku pada penggunaan penutup kepala sejenis, seperti peci.
Rombongan pengguna blangkon, masuk dalam kloter 10 YIA.
Kloter ini berisikan 360 orang yang terdiri dari jamaah haji dan pendamping.
Mereka akan diberangkatkan pada pukul 18.25 WIB, Senin (4/5/2026). (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva