KULON PROGO - Tak hanya fasilitas yang mewah, Embarkasi Yogyakarta International Airport (YIA) juga menyediakan makanan berkelas. Lantaran, hidangan hotel berbintang menjadi menu utama santapan untuk calon jemaah haji (CJH).
Radar Jogja bekesempatan mengunjungi dapur hotel berbintang yang menghidangkan ratusan porsi makanan untuk CJH. Untuk memasuki area dapur, chef meminta awak media menggunakan APD, termasuk segera memasuki dapur mengingat bahaya kontaminasi dari luar ruangan.
Sesampai di dalam dapur, puluhan juru masak dan chef nampak sibuk untuk memasak. Cara memasak mereka cukup beriirama. Lantaran, setiap juru masak memiliki tugas masing masing. Misalnya menyiapkan bumbu, hingga melakukan plating.
Momen yang ditunggu-tunggu pun datang, ratusan piring berjajar memadati meja platting. Di sini, ratusan hidangan mulai dihias. Tak hanya itu, hidangan turut dibungkus dengan wrapping untuk mencegah masuknya debu dari luar.
Tak selang lama, pegawai hotel mulai menata ratusan hidang ke meja berbentuk bulat hingga persegi. Mirip seperti dinner dalam acara pesta, penyajian pun cukup berkelas. Padahal lauk kala itu, berupa nasi, ayam, tempe, dan sayur.
Di balik hidangan mewah ini, ada sosok Vici Tren sebagai Executive Chef Hotel Novotel Ibis. Selama musim haji, ia ditugaskan mengawal proses memasak hidangan untuk jemaah haji.
Baginya, ini kali pertama melayani jemaah haji dengan sajian hotel berbintang. "Sekali menghidangkan ada 360 porsi," ucap Vici, Senin (27/4).
Baca Juga: Kebumen Penyumbang Jemaah Haji Terbanyak di Jawa Tengah, Rata-Rata Sehari Ada 15 Pendaftar
Pria keturunan India yang besar di Jawa Timur itu menjelaskan, hidangan yang disajikan ke CJH mirip dengan hidangan hotel. Perbedaanya, hanya ada di spesifikasi makanan. Hidangan untuk CJH harus disesuaikan dengan lidah semua CJH. Pasalnya, tak semua CJH pernah atau cocok dengan hidangan dari luar negeri.
Alhasil, dapurnya perlu menyesuaikan hidangan dengan lidah CJH. Terwujudlah hidangan Nusantara yang dapat ditemui di rumahan atau restoran lokal. Walau begitu, cita rasa, penampilan, hingga higienitas terjamin. "Plating sebenarnya tidak lama, cukup didata sesuai proporsi dan di-wrapping," ungkapnya.
Pria yang memiliki sekarung sertifikat chef itu menuturkan, makanan haji tak hanya gampang diterima lidah masyarakat. Tetapi harus menyesuaikan dengan nilai gizi dan berat. Pihaknya sengaja menghindari sayur kol yang memicu gas di dalam perut saat dikonsumsi. Sayuran bersantan turut dihindari, karena banyak CJH lansia dengan keluhan beberapa penyakit.
Tantangan menghidangkan makanan tak hanya berkaitan dengan jenis makanan, tapi manajemen waktu penghidangan. Masakan hotel memiliki ciri khas unik, di antaranya fresh atau hidangan baru. Hotel selalu memberikan waktu penyajian yang terbatas. "Makanan harus disajikan dua jam sebelum CJH makan, tak boleh lebih," ungkapnya.
Baginya yang berulangkali bekerja di hotel, manajemen waktu tergolong mudah. Makanan sedia sebelum dua jam dilakukan untuk memberi jarak pengecekan kualitas makanan.
Di samping itu, keamanan pangan dipastikan terjamin. Lantaran, makanan masih fresh dan jika lebih dari dua jam makanan akan dibuang. Tujuannya, mencegah makanan rusak tidak dikonsumsi jemaah.
Hal serupa juga diadaptasikan pada hidangan snack. Setiap hari dapur memasak tiga kali makanan berat, dan dua kali cofee break. Selama dua kali cofee break hidangan semacam roti turut dihidangkan. Roti atau sejenis kue menjadi andalan hotel dalam menciptakan rasa ringan tapi mengenyangkan untuk jemaah haji.
Sementara itu, CJH asal Sleman Yogma Nurdinara mengaku antusias dengan embarkasi berbasis hotel. Selain merasa lebih dekat, embarkasi berbasis hotel menyajikan pelayanan optimal. Mulai dari kamar hingga makanan. "Makanannya cocok, enak di lidah dan pelayanannya bagus," ungkapnya.
Yogma menjelaskan, cita rasa makanan untuk jemaah haji tergolong mudah diterima. Bukan menu western yang disajikan, menu Nusantara justru menjadi hidangan yang disukai. Di samping itu, hidangan tetap mementingkan estetika. (gas/pra)
Editor : Herpri Kartun