KULON PROGO - Sebanyak 9.600 calon jamaah haji diberangkatkan dari Embarkasi YIA Kulon Progo menuju Tanah Suci Mekah.
Mereka terbagi menjadi 26 kloter.
Rata-rata setiap kloter berisi 360 jamaah.
Mereka tidak hanya mendapatkan fasilitas yang mewah.
Tetapi juga dijamu dengan menu santapan berkualitas dan sehat.
Radar Jogja mencoba menengok dapur hotel berbintang yang menghidangkan ratusan porsi makanan untuk jamaah haji.
Dengan menggunakan perlengkapan alat pelindung diri (APD), Radar Jogja diajak menjelajahi ruangan yang krusial itu.
Penggunaan APD dilakukan untuk menghindari bahaya kontaminasi dari luar ruangan.
"Kami membuat hidangan, sekali menghidangkan ada 360 porsi," ungkap Executive Chef Hotel Novotel Ibis Vici Tren, saat ditemui Radar Jogja, Senin (27/4/2026).
Dalam satu kloter, hotel menyediakan tiga kali makanan besar dan dua kali coffe break.
Menu-menu yang disajikan menyesuaikan dengan lidah calon jamaah haji yang kecenderungan berasal dari penduduk lokal.
Baca Juga: Demo Mahasiswa di Waena Jayapura Ricuh, Aparat Bubarkan Paksa dengan Gas Air Mata
Vici, pria berdarah India yang besar di Jawa Timur itu menjelaskan, hidangan yang diolah terdiri dari ayam, sayuran, nasi dan tempe.
Dengan gramasi makanan berat sekitar 500 gram.
Makanan-makanan tersebut diolah oleh 65 juru masak dan satu chef ececutive.
Sebelum menu disajikan, makanan harus melalui uji gramasi, uji organoleptik, dan bank sampel.
Cita rasa, penampilan, hingga higienitas dipastikan terjamin.
Pria yang memiliki sekarung sertifikat chef itu, menuturkan makan haji tak hanya gampang diterima lidah masyarakat.
Tetapi harus menyesuaikan dengan nilai gizi dan berat.
Penggunaan sayur kol dihindari karena dapat memicu gas di dalam perut saat dikonsumsi.
Begitu juga sayuran bersantan, juga turut dihindari, karena banyak jamaah lansia dengan keluhan beberapa penyakit.
Selanjutnya, plating makanan didata sesuai proporsi dan dilakukan wrapping agar lebih higenis.
Tantangan menghidangkan makanan tak hanya berkaitan dengan jenis makanan, tapi manajemen waktu penghidangan.
Masakan hotel memiliki ciri khas unik, di antaranya fresh atau hidangan baru.
Hotel selalu memberikan waktu penyajian yang terbatas.
"Makanan harus diaajikan dua jam sebelum jamaah makan, tak boleh lebih," ungkapnya.
Baca Juga: Bali United vs PSM Makassar, Serdadu Tridatu Ingin Lanjutkan Tren Kemenangan
Adapun menu-menu saat coffe break hidangan semacam roti turut dihidangkan. Roti atau sejenis kue menjadi andalan hotel dalam menciptakan rasa ringan tapi mengenyangkan untuk jamaah haji.
Sementara itu, Jamaah Haji asal Sleman Yogma Nurdinara mengaku antusias dengan embarkasi berbasi hotel.
Selain merasa lebih dekat, embarkasi berbasis hotel menyajikan pelayanan optimal. Mulai dari kamar hingga makanan.
"Makanannya cocok enak di lidah dan pelayanannya bagus," ungkapnya.
Yogma menjelaskan, cita rasa makanan untuk jamaah haji tergolong mudah diterima.
Bukan menu western yang disajikan, menu nusantara justru menjadi hidangan yang disukai. Di samping itu, hidangan tetap mementingkan estetika. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva