Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Mbah Kasidah dari Panjatan Kulon Progo yang 40 Tahun Menabung dari Hasil Jualan Tempe agar Bisa Berangkat Haji 

Anom Bagaskoro • Selasa, 14 April 2026 | 18:52 WIB
INSPIRATIF: Kasidah berjualan di Pasar Kalurahan Panjatan setiap harinya, mengumpulkan uang untuk menabung haji. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
INSPIRATIF: Kasidah berjualan di Pasar Kalurahan Panjatan setiap harinya, mengumpulkan uang untuk menabung haji. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

KULON PROGO - Tantangan finansial yang kerap jadi batasan untuk beribadah haji, ditepis sosok lansia asal Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan ini. Berkat niat dan keteguhan hatinya, Mbah Kasidah, 75, segera berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Modalnya tabungan dari jualan tempe kedelai.

 

Di bawah langit Subuh berkabut di Kulon Progo, suara rantai sepeda tua memecah keheningan. Ada sosok perempuan yang tak muda lagi, menaiki sepeda itu. Di belakang sepeda, ada barang bawaan tempe yang terbungkus rapi dengan balutan daun pisang. Kayuhannya terhenti, tepat di depan selasar Pasar Kalurahan Panjatan.

Baca Juga: Waspada Ancaman El Nino, Ribuan Tangki Air Bersih Disiapkan: Upaya Antisipasi Potensi Kekeringan Panjang di DIY


Pasar kecil di tengah sawah dengan fasilitas los terbuka itu menjadi saksi keseharian perempuan lansia ini. "Sekarang sudah tua, jualannya cuma di sini," ucap Kasidah saat ditemui Radar Jogja, Selasa (14/4).


Bermodal gelaran tikar beralaskan lantai semen, Kasidah yang kini berumur 75 tahun itu membuka harinya dengan berjualan tempe kedelai. Tangannya yang keriput, tetap sigap menata tempe menjadi tumpukan hingga melayani pembeli dengan ramah. 


Senyumnya tergambar jelas saat beberapa orang berniat membeli dagangannya. Dengan bahasa halus krama inggil, Kasidah selalu menjawab pertanyaan pembeli.

Baca Juga: Bantuan Pangan APBN Mulai Disalurkan, Warga Giripeni Geruduk Balai Kalurahan


Kesehariannya bukan sekadar berjualan. Saat sore hari kegiatannya berlanjut mencari daun pisang di sekitar rumah. Daun pisang itu digunakan sebagai bungkus tempe yang dikenal mempengaruhi cita rasa.  Tangan rapuhnya juga mengolah sendiri kedelai sebagai bahan baku tempe.
Namun ini bukan tentang cara membuat tempe kedelai tradisional. Tapi, perjalanan spiritual Mbah Kasidah yang berjualan tempe untuk ke Tanah Suci. "Alhamdulillah, tahun ini bisa ke Tanah Suci. Doakan ya Mas," ungkapnya.


Kasidah merupakan salah satu jamaah haji yang nantinya berangkat pada kloter pertama, 21 April. Perjalanan menuju Baitullah tentu bukan perkara gampang baginya. Jika ditarik jauh, sekitar 40 tahun lalu ia memiliki niat untuk bisa menunaikan rukun Islam kelima.

Baca Juga: BMKG Yogyakarta Prediksi Kemarau Tahun Ini Lebih Kering, Ini Penyebabnya!


Saat masih berumur 35 tahun, niat berhaji telah dimilikinya. Meski masih muda, ia memiliki keterbatasan finansial. Lantaran harus menghidupi tiga anaknya. Sama seperti pekerjaannya saat ini, Kasidah merupakan penjual tempe kedelai.

 
Bukan skala industri, produksi tempenya skala kecil. Di masa mudanya, setiap hari ia mampu mengolah 10 kilogram kedelai untuk menjadi tempe. Sedangkan saat ini hanya mampu 5 kg saja.


Masih teringat jelas, hasil jualan di tahun 90-an disisihkan Rp 100 untuk tabungan pertama berangkat haji. Uang tabungan disimpan dalam celengan dan rutin ditambah saat ada keluangan finansial. 


Hingga 2012, Kasidah memulai membuka rekening tabungan haji. Saat itu, tabungan awal hanya sekitar belasan juta. "Awal nabungnya 2012, ditabung setiap 10 hari sekali," ungkapnya.

Baca Juga: Hujan Abu Tipis Guyur 11 Desa di Kabupaten Magelang; Imbas Awan Panas Guguran Merapi


Bukannya kendor, ia justru tambah semangat mengejar tabungan haji yang masih kurang. Walau sudah berumur, setiap bulannya dari berjualan tempe ia mampu menyisihkan Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu.

 
Selain berjualan tempe, Kasidah turut membuat sapu lidi untuk dijual. Walau hasilnya sedikit, uang penjualan dikumpulkan untuk menabung. "Kalau ada kebutuhan uang yang segera, tabungan tidak saya sentuh," ungkapnya.


Keteguhan hati dan niatnya untuk berhaji tak goyah, bahkan saat keluarganya sedang mengalami kesusahan finansial. Ia lebih memilih mencari tambahan uang dari pekerjaan lain agar tak menyentuh uang tabungan haji. Pasalnya, ia telah berniat uang tabungan haji merupakan titipan Tuhan dan untuk ibadah.

Baca Juga: Total 117.000 Meter Persegi Lahan Terdampak Tol Purwomartani-Maguwoharjo, Pembebasan Sudah 95 Persen


Berkat ketekunannya, Kasidah akhirnya dipanggil untuk berangkat haji tahun 2024. Namun, saat itu terjadi penyesuaian akibat pemulihan masa pandemi Covid-19. Akibatnya, kasidah harus menunggu kembali. 


Pertanyaan kapan berangkat pun bermunculan di benaknya. Berkat doa dan niatnya, Kasidah akhirnya mendapat kesempatan ke Tanah Suci tahun ini. "Seneng bisa berangkat tahun ini. Tinggal berangkat dan pasrah ke Allah," ungkapnya.


Menjelang keberangkatan, Mbah Kasidah mengurangi jumlah jualannya. Kini setiap hari ia rutin berjalan kaki untuk persiapan ibadah haji yang cukup menguras tenaga dan mental. 

Baca Juga: Dari Delapan Pendaftar, Tujuh Lolos! Kadiskominfo hingga Staf Ahli Ramaikan Bursa Calon Sekda Kota Jogja 


Jauh-jauh hari kegiatan manasik telah diikuti. Termasuk kesiapan, koper hingga perlengkapan telah disiapkan. Kasidah berharap, ibadah hajinya berjalan lancar.

Kamituwa Kalurahan Panjatan Muhklis Abdullah membenarkan Mbah Kasidah diketahui merupakan warganya yang akan berangkat haji tahun ini. Sosok Mbah Kasidah merupakan pedagang tempe yang dikenal masyarakat sekitar. 


Ia terkenal sebagai penjual tempe yang ramah. "Berjualan tempe sejak muda dan sebagian disisihkan untuk tabungan haji," ungkapnya.
Muhklis menyampaikan, berangkatnya Mbah Kasidah berkat jualan tempe menjadi teladan masyarakat sekitar. Pasalnya, kondisi finansial tak lagi menjadi hambatan untuk menunaikan rukun Islam kelima. (gas/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#haji #lansia #manasik #tanah suci