RADAR JOGJA - Tak semua umat Islam mau dan mampu melengkapi rukun Islam kelima.
Tantangan finansial yang kerap jadi batasan untuk beri badah haji justru ditepis sosok lansia Asal Kalurahan Panjatan, Kapanewon Panjatan.
Berkat niat dan keteguhan hati Mbah Kasidah, 75, berhasil melengkapi Rukun Islam Kelima di tahun ini.
Padahal dirinya hanya bermodal tabungan dari jualan tempe kedelai.
Baca Juga: Punya Puluhan Ribu dan 6 Juta Lebih Anggota, Koperasi di Jateng Digadang Jadi Penguat Ekonomi Rakyat
Di bawah langit Subuh berkabut di Kulon Progo, suara rantai sepeda tua memecah keheningan.
Ada sosok perempuan yang tak muda lagi, mengayuh sepeda itu.
Di belakang sepeda, sebongkok tempe terbungkus rapi dengan balutan daun pisang.
Kayuhannya terhenti, tepat di depan selasar Pasar Kalurahan Panjatan.
Pasar kecil di tengah sawah dengan fasilitas los terbuka itu menjadi saksi keseharian sosok lansia ini.
"Sekarang sudah tua jualannya cuma di sini," ucap sosok lansia itu yang bernama Kasidah, saat ditemui Radar Jogja, Selasa (14/4/2026).
Bermodal gelaran tikar beralaskan lantai semen, sosok Kasidah yang telah berumur 75 tahun itu membukan harinya dengan berjualan tempe kedelai.
Tangannya yang keriput, tetap sigap menata tempe menjadi tumpukan hingga melayani pembeli dengan ramah.
Senyumnya tergambar jelas saat beberapa pembeli berniat membeli dagangannya. Dengan bahasa Krama Inggil, Kasidah selalu menjawab pertanyaan pembeli.
Kesehariannya bukan sekedar berjualan, saat sore hari kegiatannya berlanjut mencari daun pisang di sekitar rumah.
Daun pisang itu digunakan sebagai bungkus tempe yang dikenal mempengaruhi cita rasa.
Tangan rapuhnya juga mengolah sendiri kedelai sebagai bahan baku tempe.
Namun ini, bukan tentang cara membuat tempe kedelai tradisional.
Tapi perjalanan spiritual Mbah Kasidah yang berjualan tempe untuk ke Tanah Suci.
"Alhamdulillah, tahun ini bisa ke Tanah Suci doakan ya mas," ungkapnya.
Kasidah bersama senyumannya menceritakan tahun ini rencananya ia berangkat haji ke Tanah Suci.
Kasidah merupakan salah satu jamaah haji yang nantinya berangkat pada kloter pertama tanggal 21 April.
Perjalanan menuju Baitullah tentu bukan perkara gampang baginya.
Jika ditarik jauh, sekitar 40 tahun lalu ia memiliki niat berangkat ke Tanah Suci.
Saat masih berumur 35 tahun, niat berhaji telah dimilikinya.
Saat itu, ia masih muda namun memiliki keterbatasan finansial.
Lantaran, harus menghidupi tiga orang anaknya.
Sama seperti pekerjaaannya saat ini, Kasidah merupakan penjual tempe kedelai.
Bukan skala industri, produksi tempenya skala kecil.
Di masa mudanya, setiap harinya ia mampu mengolah 10 kilogram kedela untuk menjadi tempe.
Sedangkan saat ini, hanya mampu lima kilogram pengolah kedelai menjadi tempe.
Masih teringat jelas, hasil jualan di tahun 90-an disisihkan Rp 100 perak untuk tabungan pertama berangkat haji.
Uang tabungan disimpan dalam celengan dan rutin ditambah saat ada keluangan finansial.
Hingga tahun 2012, Kasidah memulai membuka rekening tabungan haji.
Saat itu, tambungan awal hanya sekitar belasan juta.
"Awal nabungnya 2012, ditabung setiap 10 hari sekali," ungkapnya.
Bukannya kendor, Kasidah justru tambah semangat mengejar tabungan haji yang masih krang.
Baca Juga: Hujan Abu Tipis Guyur Sebelas Desa di Magelang Imbas Awan Panas Guguran Merapi
Walau sudah berumur, setiap bulannya dari berjualan tempe ia mampu menyisihkan Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu.
Selain berjualan tempe, Kasidah turut membuat sapu lidi untuk dijual. Walau hasilnya sedikit, uang penjualan dikumpulkan untuk menabung.
"Kalau ada kebutuhan uang yang segera, tabungan tidak saya sentuh," ungkapnya.
Keteguhan hati dan niatnya untuk berhaji tak goyah, bahkan saat keluarganya sedang mengalami kesusahan finansial.
Ia lebih memilih mencari tambahan uang dari pekerjaan lain agar tak menyentuh uang tabungan haji.
Pasalnya, ia telah berniat uang tabungan haji merupakan titipan Tuhan dan untuk ibadah.
Berkat ketekunannya, Kasidah akhirnya dipanggil untuk berangkat haji di tahun 2024.
Baca Juga: Cuma Tanya Terus Pergi, di saat Efisiensi BBM Penjualan Kendaraan Listrik di Kebumen Masih Lesu
Namun, saat itu terjadi penyesuaian akibat pemulihan masa pandemi Covid-19.
Akibatnya, kasidah harus menunggu kembali.
Pertanyaan kapan berangkat pun bermunculan dibenaknya.
Berkat doa dan niatnya, Kasidah akhirnya mendapat kesempatan ke Tanah Suci di tahun 2026 ini.
"Seneng bisa berangkat tahun ini, tinggal berangkat dan pasrah ke Allah," ungkapnya.
Menjelang keberangkatan, Mbah Kasidah mengurangi jumlah jualannya.
Kini setiap hari ia rutin berjalan kaki untuk persiapan ibadah haji yang cukup menguras tenaga dan mental.
Jauh-jauh hari, kegiatan manasik dan latihan telah diikuti.
Termasuk kesiapan, koper hingga perlengkapan telah disiapkan. Kasidah berharap, ibadah hajinya berjalan lancar. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva