KULON PROGO - Konflik Timur Tengah mulai mengancam sektor perdagangan Tanah Air.
Pedang kecil turut terdampak.
Harga komoditas plastik yang sudah menjadi kebutuhan pedagang kecil mengalami kenaikan secara drastis.
Pedagang Plastik di Pasar Wates Wicaksono menyebut, kenaikan harga plastik mulai terlihat sejak H-10 Lebaran.
Saat itu, banyak produsen hingga distributor plastik menaikkan harga secara drastis.
Seiring kebutuhan masyarakat akan plastik menjelang Lebaran meningkat.
Bukannya kembali normal, usai Lebaran harga plastik justru semakin melambung.
"Naiknya sekitar 70 persen sampai 100 persen, sesuai produknya," ucap Wicak, Selasa (7/4/2026).
Baca Juga: 25 Tahun Pipa Terpasang Tanpa Berfungsi, Kini Air PDAM Mengalir bagi Warga Jeruken Gunungkidul
Wicak menjelaskan, seluruh produk berbahan plastik mengalami kenaikan, baik kantong plastik maupun wadah makanan, semua naik.
Ia mencontohkan salah satu produk yang kerap diburu pembeli adalah cup atau wadah minuman berbahan plastik.
Untuk cup ukuran sedang isi 50 buah saat ini dibanderol Rp 14 ribu, dari semula Rp 10 ribu per paketnya.
Harga cup ukuran besar juga melejit, dari Rp 14 ribu naik jadi Rp 23 ribu.
Plastik kresek untuk wadah naik dua kali lipat dari Rp 4 ribu jadi Rp 8 ribu.
Plastik bening wadah makanan dijual Rp 23 ribu dari sebelumnya Rp 14 ribu.
Baca Juga: WFH Jumat Tidak Berlaku Bagi Pekerja maupun Buruh di Gunungkidul, Begini Penjelasan Disdagker
Dampaknya di tingkat pedagang usaha mikro kecil menengah (UMKM), mau tak mau turut menaikkan harga agar tak merugi.
"Dari yang sebelumnya 10 paket jadi cuma beli dua atau tiga paket," ungkapnya
Disebutkan, kenaikan harga plastik dipengaruhi konflik di Timur Tengah.
Distributor dan produsen plastik menjelaskan ke pedagang, bahwa stok plastik dalam negeri semakin menipis.
Di samping itu, produsen tak dapat melakukan produksi normal.
Bahan baku biji plastik kebanyakan di impor melalui jalur Selat Hormuz.
Adanya konflik global yang dipicu eskalasi Amerika Serikat-Isrel dan Iran, menyebabkan distribusi energi dan perdagangan dunia menjadi terganggu.
Termasuk biji plastik yang bahan bakunya berasal dari minyak bumi.
Meningkatnya harga plastik dikeluhkan Pedagang Oleh-oleh pasar Wates Susilowati.
Menurutnya, harga plastik mengalami kenaikan sejak Ramadhan.
Di hari normal, ia kerap menghabiskan ratusan plastik ukuran satu kilogram untuk membungkus makanan.
"Naik 60 persen, dari Rp 20 ribu menjadi Rp 26 ribu," ungkapnya.
Susi mengungkapkan, kenaikan harga plastik menyebabkan pedagang resah.'
Baca Juga: Keluarga Sehat tanpa Stunting, Kampanyekan Gerakan Gemar Makan Ikan
Sebab operasional membengkak.
Dalam sehari operasional membeli plastik mencapai Rp 100 ribu dari sebelumnya hanya Rp 80 ribu.
Hal ini memotong laba.
Meski demikian ia tak memiliki niat untuk menaikkan harga jualnya saat ini.
Ia khawatir jika harga dinaikkan pembeli akan kabur.
Rencananya, kenaikan akan dilakukan bertahap sambil menekan biaya operasional.
Dari yang sebelumnya memajang oleh-oleh dengan plastik, Susi memilih tak melakukan pemajangan produk.
Hal serupa juga diungkapkan pedagang teh di Wates Bernadita.
Ia terpaksa menaikkan harga jual teh kemasan menjadi Rp 3 ribu per kemasan dari sebelumnya Rp 2.500 per kemasan.
Hal ini dilakukan agar tak merugi, mengingat kenaikan cup teh mencapai 80 persen.
"Sebenarnya ragu menaikkan harga, tapi nanti malah rugi," ujarnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva