Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko mengungkapkan, kondisi pasar tradisional di Bumi Binangun cenderung makin ditinggalkan. Sebab, pola belanja masyarakat mulai berubah seiring perkembangan zaman. Jika terus berlanjut, pasar tradisional akan benar-benar tertinggal.
"Pasar ilang kumandange, dan pasar mulai kelihatan sepi, segera kami carikan solusi," ucap Ambar, Minggu (29/3).
Ambar mengungkapkan, beberapa kali meninjau pasar yang dikelola oleh pemkab dan kalurahan. Namun, beberapa kali pasar kehilangan aktivitas perekonomian. Seperti di Pasar Sentolo, Wates, hingga Bendungan. Sebenarnya, upaya menarik masyarakat untuk ketiga pasar tersebut telah dilakukan. Di antaranya, peremajaan sarpras hingga mengembangkan pasar tematik yang mulai berlaku secara bertahap.
Akan tetapi, langkah ini tak akan bisa langsung meramaikan pasar. Lantaran, fungsinya mengupayakan menarik minat masyarakat. Menurutnya, perlu ada gerakan percontohan agar pasar kembali ramai secara langsung. Apabila telah ramai, masyarakat akan cenderung kembali berbelanja di pasar tradisional.
Menurut Ambar, gerakan percontohan harus diawali dari ASN. Pegawai negeri bisa berbelanja kebutuhan seperti beras, minyak goreng, ataupun bahan pokok lain.
Pihaknya kini berupaya mewujudkan kebijakan nglarisi pasar dengan kajian mendalam. Khususnya menyukseskan kebijakan dengan surat edaran. Surat edaran dimungkinkan terbit jika kajian menghasilkan efek domino positif atas kebijakan itu. Lantaran, gerakan konkret perlu dilakukan untuk menyelamatkan pasar.
Baca Juga: DIY Mengundurkan Diri untuk Menjadi Tuan Rumah PON XXIII 2032, Ini Alasannya
Sebelumnya, Pedagang Pasar Wates Jaimalis mengaku, keadaan pasar makin hari makin sepi. Apalagi adanya pasar pagi yang tidak tertata, membuat pembeli terpusat di pelataran. Padahal di area dalam masih banyak pedagang yang sepi pembeli. "Banyak kios yang sudah tutup," ujarnya.
Hal ini membuat para pedagang tidak tak kuat membayar biaya retribusi. Mengharuskan para pedagang untuk meninggalkan kios. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita