KULON PROGO - Pemkab Kulon Progo kembali menggelar Pasar Murah Ramadan di 12 kapanewon.
Kegiatan ini, mendapatkan antusias masyarakat cukup tinggi.
Bahkan sebagian masyarakat rela mengantri dalam kondisi berpuasa.
Pelaksana Pasar Murah Muhammad Nastain menyampaikan, pasar murah merupakan bagian dari operasi pasar yang diselenggarakan oleh Dinas Perdagangan (Disdag) Kulon Progo.
Pengendalian inflasi merupakan tujuan dari kegiatan tersebut.
Mengingat potensi komoditas bahan pokok melonjak saat Ramadan hingga Lebaran.
"Hari ini di Kapanewon Pengasih, ada lima komoditas utama yang diperjualbelikan," ucap Nastain, saat ditemui Radar Jogja, Senin (9/3/2026).
Nastain menyampaikan, lima komoditas utama mendapat subsidi dari pemerintah yang berasal dari APBD 2026.
Komoditas itu meliputi, beras, minyak goreng, telur ayam ras, gula pasir, dan terigu.
Rata-rata setiap komoditas mendapat subsidi Rp 3 ribu per satuan. Sehingga, lebih murah dibandingkan dengan harga pasaran.
Pembelian lima komoditas subsidi juga dibatasi.
Pasalnya, pemkab hendak melakukan pemerataan penjualan.
Dalam satu tempat, total komoditas yang diperjualbelikan mencapi 3,5 ton, dan setiap komoditas subsidi rata-rata dijatah 300 hingga 400 kilogram.
"Antusiasnya luar biasa, setiap pukul 11.00 WIB selalu habis," ujarnya.
Setiap penyelenggaraan pasar murah, komoditas subsidi rutin kehabisan stok.
Pasalnya, masyarakat menaruh minat cukup besar pada sembako murah.
Hal ini dapat disaksikan di Kantor Kapanewon Pengasih.
Antrian pembelian sembako mengular.
Padahal, antrian sudah terbagi menjadi empat petugas pelayanan.
Antuasias masyarakat juga berkaitan dengan ketersediaan makanan lebaran yang terjangkau. Misalnya, kue kering, kue kaleng, hingga sirup.
Salah satu warga Kalurahan Margosari Pengasih Nuraini mengaku antusias dengan pasar murah.
Bahkan rela mengantre sebelum pasar murah dibuka. Bersama teman sebayanya, ia mengantri sejak pukul 07.00 WIB, padahal pasar murah baru dimulai pukul 08.00 WIB.
"Untungnya antri sejak pagi, jadi cukup menunggu 30 menit," ungkapnya.
Antusiasnya cukup beralasan, mengingat harga barang di pasaran mengalami kenaikan jelang Lebaran.
Subsidi pemerintah memberikan selisih harga mulai dari Rp 2-3 ribu.
Contohnya harga telur Rp 26 ribu, lebih murah Rp 2 ribu dari pasaran, dan harga gula Rp 15 ribu lebih murah Rp 3 ribu dibandingkan di pasar.
Aini berharap agar jumlah pembelian bahan pokok tak dibatasi.
Lantaran, pembatasan membuat bahan pokok yang dibeli cukup terbatas.
Pembeliannya hanya cukup digunakan saat lebaran, sedangkan di hari normal belum terakomodir. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva