Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kulon Progo Bambang Sutrisno menjelaskan, hasil kajian pihaknya menunjukkan mentalitas pekerja masih rendah. Hal ini ditandai dengan tingkat serapan loker yang selama ini tersedia.
"Tahun 2025 ada tujuh ribu loker, yang mendaftar hanya empat ribu," ucap Bambang, Minggu (22/2).
Bambang menjelaskan, loker yang masuk ke Kulon Progo tak dimanfaatkan pencari kerja. Lantaran, terdapat lima ribu pengangguran terbuka yang tercatat di data Disnaker.
Sedangkan, pencaker yang mendaftar di loker 30% merupakan warga luar Kulon Progo.
Di samping itu, serapan tenaga kerja yang berhasil diserap belum optimal. Lantaran, dari empat ribu pendaftar hanya tiga ribu tenaga kerja yang terserap. Penyerapan didominasi perusahaan lokal dalam DIJ.
"Masih banyak pencaker dari Kulon Progo yang pilih-pilih pekerjaan," ungkapnya.
Kebanyakan pencaker asal Kulon Progo masih pilih-pilih pekerjaan. Lantaran, pencaker Kulon Progo mencari perusahaan lokal yang tak perlu merantau hingga ke luar DIY.
Padahal mereka menuntut gaji besar yang tak sebanding dengan UMR. Alhasil, tak ada satupun loker yang ideal bagi pencaker.
Di sampaing itu, masih banyak pencaker yang kurang adaptif di dunia industri.
Lantaran, setiap tahunnya terdapat rata-rata tiga pekerja yang memutus kontrak secara sepihak akibat tak betah dengan pola kerja industri.
Kasus ini sering terjadi pada pencaker yang bekerja di luar daerah.
Mentalitas kerja ini juga berhubungan dengan ketidak sesuaian kopetensi pekerja dangan perusahaan.
Seringkali, pencaker memaksakan mendaftar ke perusahaan yang membutuhkan kompetensi khusus. Nyatanya, pencaker tak memenuhi kompetensi itu.
Mengatasi hal itu, Disnaker Kulon Progo menyiapkan skema tracer lulusan. Tujuannya, .enciptakan data lulusan sesuai kompetensi yang dimiliki.
Data ini dicocokkan dengan kebutuhan industri yang terus berkembang. Di samping itu, terdapat pelatihan komptensi yang diadakan setiap tahunnya.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan juga menyoroti rendahnya tingkat partisipasi pencaker di Bumi Binangun.
Baca Juga: Cara Anak Kos Jalani Puasa Hemat, Praktis, dan Anti Boros
Padahal upaya mengentaskan pengangguran telah digenjot dengan gelaran job fair.
"Dua kali job fair, kebanyakan yang datang justru dari luar Kulon Progo," ungkapnya.
Agung menjelaskan, publikasi job fair telah digenjot hingga pencaker yang datang memenuhi target. Namun, kebanyakan pencaker justru datang dari daerah lain. Alhasil, fungsi pengentasan pengangguran tak berjalan optimal. (gas)
Editor : Bahana.